Daughter, Love of My Life 5

Daughter, Love of My Life 5 -
loading...

“Aduh jangan disini, mas..”

“Sshh udah gak apa-apa.” Pria itu semakin bernyali menyingkap rok Margaret. Napas mereka berdua terdengar berat.

“Gimana kalau nanti ada orang?” Margaret memasang raut khawatirnya.

“Bibi kan udah kamu suruh ngelicin barusan, gak ada siapa-siapa disini. Via masih sekolah ‘kan?”

Akhirnya Margarret merelakan tubuhnya digerayangi tangan pria itu. Tangan pria itu dengan sengaja menyentuh kedua bongkahan pantat Margarret tanpa mendapat perlawanan dari sang empunya. Mereka tak menyadari kehadiran bocah kecil yang tengah mengintip mereka dari balik bingkai jendela.

Si gadis membulatkan matanya, melihat pemandangan aneh yang tersaji dihadapannya dengan kerutan di dahi. Siapa pria asing itu? Ia tidak pernah mengenalnya. Kaki mungilnya semakin berjinjit untuk mendapat akses visual berlebih.

“Uffhh, massh..” Margaret menaruh tangannya mengenggam lembut lengan pasangannya, seakan mengizinkan pria itu agar ia dapat berbuat lebih untuk merangsangnya.

“Suami kamu beruntung dapetin kamu, Yane..” Bisik pria asing itu.

“A-Aku kan istrimu mas, dari hati..”

Via spontan membelalakan matanya mendengar pengakuan mengejutkan dari mulut kotor Mamanya. Seutas senyum miris tertekuk di bibir pucatku ketika tak sengaja aku membaca pikirannya; kalau orang asing itu suami Mamanya, berarti pria itu juga Papanya yang lain.

loading...

Pria asing itu terkekeh, “Cium aku kalau gitu, Yane.”

Margaret tanpa sungkan-sungkan lagi mengecup bibir pria itu, kecupan-kecupan kecil yang berubah menjadi ciuman ganas seiring dengan remasan kuat di bongkahan pantatnya.

“Lebih enak mana dientot sama aku atau suamimu itu?”

“Enak sama mas, hihihi.. Aku kan cinta sama mas.” Margaret yang tak sabaran menyodorkan kedua payudaranya ke hadapan pria itu.

“Terus kenapa kamu nikah sama si culun itu?” Pria itu melepas cengkraman tangannya di kedua bongkahan Pantat ibunda Via dan beralih mengenyoti buah dada Margaret yang membusung. Ia menerima tawaran Margaret untuk menyusu pada wanita berusia genap 30 tahun itu. Diperlakukan demikian, puting kecoklatan Margaret perlahan mulai mengeras.

“Akhhh… enakkh.. A-Aku kan dijodohin orang tuaku, mas..” Lirihnya keenakan.

Via meneguk ludahnya, sumber air susu yang dulu pernah membasahi kerongkongannya kini dijamah oleh pria lain. Via tidak tahu kalau Mamanya masih bisa menyusui, Mamanya tidak pernah menawarinya menyusu kembali.

Tak tahu malu, mereka mulai melucuti pakaian pasangannya masing-masing. Pria itu mengenyahkan daster putih yang dikenakan Margaret dan menunjukkan tubuh telanjang wanita itu dihadapan Via.

“Puasin kontol aku sayang..”

“Mana-mana benda kesayanganku?” Margaret mengambil keluar penis hitam pria tersebut. Ia kocok-kocok lembut benda lonjong dengan urat-urat biru yang menghiasi permukaan kulitnya itu. Bibirnya melanjutkan ciuman basah yang sebelumnya tertunda ketika membuka pakaiannya.

“Aduh..” Margaret menjatuhkan pandangannya ke bawah, ia terkejut mendapati dua jari pasangannya menancap di kemaluannya yang sudah basah dengan lendir vaginanya tanpa persiapan.

Margaret baru menghentikan ciumannya sekedar untuk mendesah sensual ketika jari-jari itu mengobok-obok liang vaginanya. Berulang kali vaginanya dicoblos dengan gerakan liar ditambah hisapan-hisapan di payudaranya, Margaret mendongkakan kepalanya menahan gelombang kenikmatannya.

Margaret semakin melebarkan kedua kakinya, bermaksud agar pasangannya lebih leluasa mempermainkan liang kewanitaannya. Ia sudah hanyut dalam kenikmatannya sendiri. Jari-jari pria itu keluar masuk organ intim Margaret kian lancar dengan vagina Margaret yang melicin.

Margaret menjerit-jerit kecil, ia mempercepat gerak tangannya mengocok kemaluan orang itu.

“Ahh.. Kamuh pria idamanku, sayang.”

Menyadari Margaret hampir tiba di puncak kenikmatannya, pria itu berhenti mengobrak-abrik vagina Margaret yang lembab dan becek. Margaret sampai mengumpat kesal dibuatnya.

“Kenapah dilepas sihhh!! Uhh..”

“Cium dulu kontolku.” Suruh si Pria.

Kepalang nafsu, Margaret tanpa berpikir panjang mendorong tubuh Pria itu jatuh keatas Sofa. Ia berjongkok, menghadapkan wajahnya dengan penis hitam pasangannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi, Margaret mengemuti penis tersebut mematuhi perintah si pria.

“Kamu gak pernah oral suami kamu kan?”

loading...

Margaret menggeleng, penis masih tersumpal di mulutnya. Ia melakukan tindakan paling vulgar yang pernah Via kecil tonton seumur hidupnya. Via sampai mencakar dinding pembatas yang membatasi ruang tamu dan living room.

Dengan desahan-desahan yang bersahutan sebelumnya, seharusnya Bibi menyadari ada aktivitas tak lazim dirumahnya. Tapi wanita paruh baya itu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Sudah pasti wanita itu sudah mengetahuinya lebih dulu jauh-jauh hari.

Lidah Mamanya membelai-belai batang penis pria itu. Mulut Mamanya yang mengecup dahi Via penuh cinta dan kasih sayang setiap malamnya ternyata sehina itu. Keharibaan mulutnya rela menyentuh alat kencing pria lain tanpa ada rasa jijik bersemayam di wajah keibu-ibuannya.

Via merasa perutnya seketika mual. Ia tak sedikitpun berkedip melihat adegan persetubuhan Mamanya hingga matanya mengering. Mengapa Mamanya mau melakukan hal menjijikan itu? Pertanyaan itu terus memenuhi kepalanya.

Mamanya seolah tuli dengan jeritan yang terus saja terkumandang di hati Via cilik. Via tak tega Papanya diperlakukan seperti ini. Ia mungkin masih kecil, tapi ia pun tak terlalu polos untuk sekedar mengerti kalau Mamanya tengah berselingkuh dengan pria lain.

Mulut Mamanya melingkar mesra di penis pria yang bukan suaminya. Kepalanya yang dielus-elus oleh tangan pria itu bergerak maju mundur mengikuti sedotan di penis pria itu. Satu tangan pria tak dibiarkan menganggur, ia kembali meremas-remas salah satu gunung kembar Margaret untuk kembali menikmati sensasi kenyalnya. Terkadang ia cubit puting coklatnya gemas hngga Margaret melonglong nikmat.

“Aduhh, enak sekali, mas.”

Sampai tiba masanya penis pria itu menyodok paksa mulut Margaret hingga air liur wanita itu tumpah ruah membasahi batang penis Margaret. Penis itu berdenyut-denyut, menyemburkan cairan putih kental ke rongga mulut Margaret. Mamanya hendak menelan habis sperma tersebut. Tapi pria itu mencegahnya.

“Enak ga pejuhku, sayang?”

“Enak banget Mas Doni.. Ini kurang, aku mau lagi!”

“Sini-sini aku kasih lagi, mana memekmu?” Kata Pria yang disapa Doni itu sembari menampar-nampar penisnya di pipi Margaret. Margaret menerima setiap pelecehan itu tanpa satupun kalimat protes, ia biarkan penis yang masih tersisa sedikit lendir sperma dan basah oleh air liurnya itu menamparnya.

Puas ditampari penis besar itu. Margaret serta merta rebahan diatas karpet dengan kaki mengangkang, ia tunjukkan vaginanya yang merekah karena sudah terangsang hebat.

Iris mata kecoklatan Via mulai berkaca-kaca. Kasihan putri kecil ini, ia pulang lebih awal karena ada rapat mendadak para guru di sekolahnya. Tapi sesampainya di rumah, bukannya pulang dengan bahagia, ia malah mendapat pemandangan tidak mengenakkan seperti ini.

Aku mulai memutar akal untuk melakukan tindakan preventif, Via tidak pantas melihat adegan persetubuhan itu lebih jauh. Aku lantas menghampiri daun telinga gadis cilik itu,

“Sini, kemarilah..” Bisikku dengan suara menggema yang hanya mampu terdengar oleh Via seorang.

Via membeliakan matanya, ia kira seseorang datang mengintrupsi acara mengintipnya. Kepalanya celingukan kesana-kemari mencari darimana sumber suara itu berasal.

Tentu matanya yang sekarang tak sanggup melihat wujudku. Untung ada sebuah ruangan gelap tak jauh dari tempat gadis itu berpijak, sebuah kamar tamu tak berpenghuni. Lampunya dimatikan. Matahari tak bersinar terlalu terik di ruangan tersebut, cenderung gelap.

Aku dengan segenap kekuatanku perlahan-lahan mulai menampakkan diriku disana. Kesedihan Via yang menyeruak di dadanya mempermudahku menyedot kesadarannya.

3rd Person P.O.V

Kulitnya memucat, air matanya sontak berhenti mengalir. Ingin Via berteriak, tapi lidahnya mendadak kelu untuk sekedar mengucapkan satu patah kata. Di pintu kamar yang sedikit demi sedikit terbuka itu ia bisa melihat sosok lain. Makhluk ghaib yang pertama ia jumpai diseumur hidupnya.

Lemas kakinya detik itu juga, Via nyaris tak bisa menopang berat tubuhnya sendiri kalau saja ia tak sadar kalau dirinya sedang mengintip Mamanya berselingkuh.

Saking takutnya, dirinya sampai tidak menyadari kalau kakinya bergerak dengan sendirinya menghampiri sosok itu. Ia tengah ditarik sosok itu. Sosok tinggi menjulang menyerupai wanita cantik. Tubuhnya nyaris telanjang, hanya ditutupi beberapa helai kain putih melayang di bagian intimnya. Rambut peraknya tergerai indah hingga dadanya.

“Jangan takut sayang, sini..” Panggil sosok itu. Suaranya menggema ke setiap sudut ruangan, tapi tak ada seorangpun yang mendengarnya kecuali Via.

Tiba dihadapannya, sosok itu menutup rapat pintu kamar. Ia bungkukan badannya mensejajarkan tingginya dengan gadis cilik itu. Tangan sedingin esnya perlahan menghapus jejak-jejak air mata di pipi Via.

“K-Ka-Kamu siapa?” Tanya Via dengan nada bergetar.

Makhluk itu tak menjawab, sebuah senyum menenangkan terpatri di wajah cantiknya itu.

“A-Apa kamu seorang malaikat?”

Makhluk itu tertawa ringan, “Bukan, aku ini seorang Jin. Tapi aku bukan makhluk yang jahat seperti kebanyakan Jin.”

Via bergidik ngeri mendengar penjelasan makhluk itu, mulutnya kembali kaku untuk membalas. Tidak etis berpikir ada Jin baik di dunia ini baginya. Ia tahu bagaimana orang-orang menggambarkan sosok Jin. Tapi kenapa ia bisa melihatnya sekarang? Setahunya ia tidak pernah diberi kemampuan semacam itu.

“Ini bukan kali pertama kita berjumpa, gadisku. Kau bertemu denganku sesaat setelah kau terlahir di dunia ini. Telah lama aku mengikutimu sejak itu. Hanya kemampuan matamu melihat sosok sepertiku mulai berkurang.”

“…Kenapa..?”

“Kenapa aku mengikutimu? Cara mudah untuk menjelaskannya; aku menyukaimu.” Makhluk itu merengkuh tubuh mungil Via dalam satu gerakan.

Via bisa merasa tubuhnya diselimuti sesuatu yang dingin seperti es. Tubuhnya menggigil merasakan sensasi itu. Via memejamkan matanya, berharap ini semua hanya mimpi. Mimpi terburuknya.

Tapi ketika kelopak matanya terbuka, kenyataan urung berubah. Makhluk itu masih setia memeluknya, kepalanya mengusap-usap pipi Via.

“Kau akan tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, Via..” Sebut makhluk itu.

“..I-Itukah alasan kamu menyukaiku..?” Via bertanya dengan segenap keberanian yang ia kumpulkan.

“Ya..”

“Apa yang kamu mau dariku?”

“Apa yang kau paling inginkan di dunia ini.”

Via menautkan kedua alisnya, tidak mengerti dengan penjelasan makhluk itu. Celah bibirnya terbuka sedikit. Nafasnya terhembus lega ketika makhluk itu melepas rengkuhannya.

“Aku ingin mengabulkan permintaanmu. Selanjutnya aku ingin menjagamu. Memilikimu. Menguasaimu.”

Via mengangguk kecil tanda ia mengerti, “Uhm.. A-Aku..”

“Kamu ingin ngebales apa yang Mama kamu perbuat? Kamu ingin Papamu bahagia? Kamu ingin menyenangkan hati Papamu ‘kan?”

Via melongo tidak percaya, makhluk itu mampu menelanjangi seisi pikirannya. Tanpa menyebut semua permintaannya, makhluk itu telah mengungkapkannya. Kepala Via terangguk berulang kali membenarkan.

“Aku tahu siapa orang yang paling bisa membuat Papamu bahagia.” Makhluk itu menyeringai, menunjukkan kedua taring tajamnya yang mencuat keluar. Ia lantas menambahkan,

“Akan kujadikan dirinya perantara untuk menyalurkan setiap kenikmatan yang akan kuberikan untukmu.” Tegasnya dengan gema suara yang menggelegar.

“..K-Kenikmatan?” Via membeo.

Makhluk itu menyibakkan helai kainnya, mengekspos tubuh telanjangnya yang utuh. Harum semerbak bunga melati tercium di setiap sudut ruangan.

“Kenali lah aku, Sethiath. Makhluk yang akan memberimu kenikmatan tiada tara.” Sethiath lekas menggerayangi tubuhnya sendiri. Ia mainkan payudaranya yang bulat dan bergantungan dengan indah itu.

Hal yang sama dilakukan Pak Doni pada Mamanya.

Via membeliakan matanya lebar-lebar saat sensasi aneh menyerang sebagian tubuhnya, terutama dadanya. Payudaranya yang belum tumbuh terasa panas, sensasi asing itu membuat tangan Via menyentuh dadanya sendiri.

“Ukhhh… Akhh…, apa ini?”

Tangan Sethiath semakin bergerak-gerak liar menyentuhi salah satu titik paling sensitif tubuhnya. Tirai rambutnya ikut menggeseki puting payudaranya. Anehnya Sethiath tidak sedikitpun terpengaruh oleh permainannya itu, justru Via yang kemudian menjatuhkan lututnya ke ubin lantai.

Badan Via luar biasa panas, tubuhnya bergetar, nafasnya terhembus berat, terengah-engah. Bagaimana bisa payudaranya yang belum tumbuh bisa memberikan kenikmatan semacam ini? Putingnya sendiri sekarang sudah mengeras dengan sendirinya.

Via meringkuk, mencoba menahan nikmat tersebut, tapi nihil. Tak ada yang bisa ia perbuat untuk menahannya.

“Katakan bagaimana rasanya?” Tuntut Sethiath.

“Enakkhh, ukhh emmh…”

Via nyaris menjerit ketika didapatinya cairan berupa air susu keluar dari putingnya. Ini mustahil, bagaimana cairan itu keluar dengan sendirinya?

Air susu Via dibiarkan tumpah membasahi seragam sekolahnya dan jatuh ke lantai. Via tidak bisa menahannya agar tak terus menetes keluar. Tapi kejadian aneh itu justru membawanya ke sebuah gelombang kenikmatan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya. Via tidak terlihat terganggu, ia malah sangat menikmatinya, Sethiath tidak mengizinkan gadisnya sampai tak bisa menikmati perbuatannya itu.

Inikah yang Mamanya rasakan ketika dijahili pria bernama Doni itu?

“Masih ada banyak lagi yang bisa kuberi.” Ucap sosok itu. Jari telunjuk dan tengahnya yang panjangnya sampai 10-15 cm itu kemudian menusuk liang kewanitaannya sendiri.

Tubuh Via sontak mengejang tertahan. Tangannya kembali bergerak memegangi belahan selangkangannya yang masih terbungkus rok selutut.

Tanpa ampun lagi Sethiath memasuki jari ketiganya dan menusuki liang kewanitaannya dengan sangat liar. Sethiath juga tak tanggung-tanggung dalam mempermainkan klitorisnya. Ia sangat menikmati tontonan dihadapannya, dimana gadis cilik itu mengelinjang nikmat kesana-kemari dengan mengigit bibir bawahnya.

Tiba suatu masa cairan orgasme merembes keluar vagina putih pucat Sethiath bak bongkahan salju itu dengan sangat derasnya.

Via memekik keras merasakan orgasme pertamanya. Meskipun Sethiath berhasil mengeluarkan air susu dari puting payudara Via, ia enggan merenggut kegadisan Via. Biarkan pria yang menjadi alatnya berhubungan dengan Via yang mendapatkan keistimewaan itu.

“Aku ingin kamu membuat sumpah denganku, gadis kecil.” Titah Sethiath dengan nada sedikit mengintimidasi.

Ia bisikkan sejumlah kalimat ke dalam alam pikir Via. Via yang saat itu terengah-engah dengan keadaan terbaring lemah diatas lantai dan penampilan urakannya, terpaksa menerima kalimat itu terputar di kepalanya.

Suara lemah Via mulai mengucapkan sumpah yang selanjutnya akan mengikat dirinya selamanya.

“Aku bersumpah akan menjadi pendamping setia Sethiath di seumur sisa hidupku. Aku berjanji untuk menuruti seluruh kemauannya dan menjalani setiap perintah yang ia berikan kepadaku. Aku bersedia menerima hukuman yang akan memberatkanku apabila aku melanggar. Aku tak berhak sedikitpun atas diriku. Kuberikan seluruh diriku pada dirinya…”

Via sama sekali tidak menyadari resiko yang akan ia tanggung atas ucapannya itu. Kesadarannya sejak awal memang sudah disedot oleh Sethiath, ia hanya mampu berpikir cara membalas perbuatan Mamanya. Via tak dapat berpikir jernih.

Kalau sekiranya Sethiath mampu mengabulkan permintaannya, maka Via tak sungkan lagi menyetujui semua syarat yang makhluk itu ajukan.

Sethiath melebarkan seringaiannya, sebagai wujud ucapan terima kasihnya, ia melemparkan ponsel Mamanya diatas ranjang.

“Sekarang telpon Papamu, dia harus tahu apa yang terjadi di rumah ini selagi dirinya tak ada.”

Via P.O.V

10 years later…

Angin dingin berhembus kencang menusuk kulitku. Aku tengah bermandi sinar rembulan meskipun awan pekat menutupi separuh sinarnya. Kubentangkan tanganku mengenggam pagar pembatas balkon kamar.

Udara malam benar-benar sejuk dari atas kamar hotel. Panorama Kota Otaru benar-benar memukau untuk dipandang dari sudut sini. Aku tak peduli kalau tubuhku benar-benar polos ketika diterpa sang angin. Ini adalah ritualku yang rutin kulakukan setiap malam.

Sperma bekas-bekas percintaanku dengan Papa masih mengalir dari selangkanganku. Rasa geli yang tercipta dari persetubuhan kami sebelumnya masih bersisa darisana.

Kulirikkan mataku sebentar ke belakang, menatap Papa yang sedang tertidur pulas diatas ranjang.

Ada hal yang kusembunyikan darinya, perkataan Papa yang menyatakan Sethiath tidak dapat menjangkauku darisini itu adalah kesalahan persepsi terbesarnya. Sethiath ada dimanapun aku berada.

Aku dan dirinya sudah terikat dalam suatu entitas. Ia sudah menjadi bagian dari diriku. Ia tidak akan pernah lepas dariku.

Dan Papa? Dia adalah media untuk melimpahkan cintaku baik terhadap Papa maupun Sethiath.

Niatku pada mulanya memang murni karena aku ingin membantu Papa. Aku ingin Papa menunjukkan bahwa dirinya bisa lebih sukses tanpa Mama. Aku ingin Papa bangkit dari keterpurukannya.

loading...

Sethiath kemudian membisikinya cara-cara untuk meraih kesuksesannya. Bagaimana Papa bisa mendapatkan begitu banyak uang dari saham nikel. Bagaimana Papa bisa sukses membangun perusahaan sebesar itu, itu tidak terlepas dari peran Sethiath.

Sethiath banyak membantu Papa, dan semua kenyataan itu terkuak ketika teman Papa, Beni berkomunikasi dengannya. Sethiath menjelaskan niat baikku menolong Papa serta memaparkan alasanku membenci Mama. Tapi ia berdusta satu hal, ia berkata bayaran atas pertolongannya itu adalah hubungan sedarah yang dielu-elukan kebanyakan Jin.

Kami sepakat untuk tidak memberi tahu alasan sebenarnya mengapa Sethiath mau membantu Papa. Ia menginginkanku. Papa pasti histeris jika tahu aku menjalin hubungan mesra yang abadi dengan makhluk ini.

Aku mencintai Papa sebagaimana mestinya kecintaanku pada orang tua. Tapi Papa yang sekarang merefleksikan sesuatu yang lain, ia dapat menghantarkan kenikmatan yang Sethiath berikan untukku. Ia perantara hubunganku dengan Sethiath.

Perlahan aku menyadari, aku pun menyayangi makhluk itu. Aku mencintai Sethiath. Makhluk sedingin es dengan penampilan serba putihnya. Ia mencintaiku hingga kobaran api cemburunya menghukumku. Ia melindungiku saat aku hampir diperkosa dulu, menyebar kabar ke penduduk sekitar kalau ada aktivitas tak lazim di cottage tempatku menginap.

Jariku menggali vaginaku, mencari sisa-sisa sperma Papa yang masih bersarang di lorong kewanitaanku. Kami melakukan tiga ronde persenggamaan malam ini, ia selalu menyemprotkan maninya dengan intensitas volume yang besar. Setelah lendir itu tertempel cukup banyak di jariku, aku menelan sperma tersebut ke dalam mulutku. Hal itu terus kulakukan sampai sebuah belaian dingin menyapa punggungku.

Tak setiap waktu Sethiath dapat menampakkan dirinya. Namun demikian, aku tahu apa yang sebenarnya ia lakukan. Tiada gunanya kami berubah menjadi satu kesatuan kalau aku tidak bisa merasakan kehadirannya disisiku.

Ia kini tengah mengecup punggung mulusku penuh damba.

“Aku mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini..” Bisikku pelan.

loading...
www.sedarahceritasex.com