loading...

loading...

Berbagi Kamar Dengan Adik Perempuanku 3

Berbagi Kamar Dengan Adik Perempuanku 3 -
loading...

BAB III

Mencoba berteman lagi

Aku terbangun di tempat tidur di samping adikku Ditta. Aku baru sadar kalau celana dalamku, sudah berada dilututku dari semalam yang telah, dan penisku yang tertidur, hanya berjarak beberapa senti dari adikku yang masih tidur. Aku membuka dan melihat noda kering bekas sperma di seprai. Aku ingat seluruh kejadian semalam, saat jari-jarinya yang lentik menyelinap ke dalam celana boxer-ku dan adikku sudah membuatku oergasme hanya dengan tangannya. Tidak ada keraguan lagi kalau kejadian kemarin malam bukanlah mimpi.

Aku bangkit dari tempat tidur dan menarik celana keatas celanaku. Ditta mulai terbangun dan menatapku. “Sebaiknya kita ke dapur sekarang untuk sarapan, Ibu biasanya sudah menunggu kita disana.” Dia mengangguk. Memikirkan jika Ibu sampai datang ke kamarku membuatku takut, meskipun saat ini kami tidak melakukan apapun di kamar kami, tapi jejak yang di tinggalkan cukup jelas. Dan secara naluri aku hanya ingin membuat semua orang menjauh dari kamarku. Kamar aku telah berubah menjadi tempat yang pribadi, terpisah dari belahan dunia lainnya, tempat hanya untuk Ditta dan aku, apalagi setelah kejadian ini.

Aku menuju kamar mandi untuk mandi dan keluar dengan pakaian yang ku pakai tadi, lalu adikku bangun dan merapikan tempat tidur, kemudian menuju kamar mandi. Aku turun lebih dulu ke bawah menuju dapur, tak lama berselang adikku menyusul.

Kami duduk dan sarapan dalam diam, dan aku melihat ke seberang meja di mana Ditta duduk. Aku mulai meperhatikannaya, selama ini aku tak begitu meperhatikan penampilan adikku. Aku terlalu asyik dengan duniaku sendiri. Wajahnya cantik matanya besar dengan alis hitam yang tebal dan jelas hidungnya mancung dan bibirnya cukup tipis. Rambutnya yang panjang sebenarnya berwarna hitam tapi ada nuansa merah sebagian. Mata dan mulutnya membuatnya tampak serasi, tatapan acuh tak acuh dan kesedihannya kini berganti dengan sedikit cahaya. Kulitnya halus dan putih, hanya ada bekas luka vaksinasi saat kecil dulu, itu yang kuingat.

Dia masih mengenakan piyama semalam, katun biru tua dengan anjing kuning tercetak di atasnya dengan panjang hanya beberapa senti dari pantatnya, terlalu pendek untuk ukuran tubuhnya. Kerusakan jendela di kamarnya beberapa malam yang lalu telah menimbulkan malapetaka di kamarnya, banyak air hujan yang masuk sehingga kamarnya harus diperbaiki. Butuh beberapa hari melakukannya, memaksanya untuk berbagi kamar denganku dan hanya menyisakan piyama tua ini untuk dia tidur. Piyama lengan panjang dengan kancing di tengah, yang membentang dari atas ke bawah menyebabkan celah terbuka di antara kancingnya, dan itu mengingatkanku saat tanganku menyelinap kedalamnya dua malam yang lalu. Aku secara jelas melihat putingnya menonjol di balik kain itu, aku bertanya-tanya apakah dia melepaskan semua pakaian dalamnya.

Di bagian depan piyamanya ada noda kecil putih yang membentuk garis di dadanya. Aku pikir dia telah meneteskan busa pasta gigi saat dia gosok gigi tadi, tapi setelah aku perhatikan ternyata itu adalah noda sperma yang telah mengering sisa tadi malam. Melihatnya dia begitu acuh saja di dapur, dengan kondisi seperti itu membuat aku sangat senang dan sekaligus khawatir. Sampai saat ini apa yang kami lakukan hanya sebatas di rumah saja, tapi sekarang aku menyadari bahwa kalau dia seberani ini, bisa saja dia akan melakukannya diluar rumah. Efeknya tidak akan baik jika ibuku tahu, dan aku harus sangat berhati hati menjaga rahasia ini dari ibuku.

Kami selesai sarapan dan akan kembali ke kamar untuk bersiap-siap kuliah. Tiba-tiba Ibuku menghentikanku .

“Argo, kamu tunggu di sini aja sambil bantu Ibu, beri waktu adikmu untuk bersiap-siap di kamar kamu, hanya perlu beberapa menit untuk bersiap-siap, berikan dia privasi.” Ibuku membereskan meja dan aku membantunya sebentar. Kemudian ibuku bersiap untuk pergi kerja. Aku tidak punya pilihan selain duduk di sofa dan menunggu sebentar.

Ibu aku akhirnya berangkat kerja, dan aku menuju ke kamar aku untuk bersiap-siap, biasanya kami berangkat selang waktu sekitar 5 menit dari ibuku berangkat kerja. Aku mengintip ke dalam dan melihat Ditta baru saja selesai bersiap siap.

“Ade sudah siap,” katanya.

“Baiklah, tunggu kakak sebentar ya.” Aku menuju ke lemari untuk mengambil pakaian, ku pikir dia akan keluar dan menuju ke ruang tamu. Ketika aku selesai memilih pakaian, aku lihat Ditta malah meletakkan barangnya dan duduk di kursi komputerku sambil menatapku dengan senyum di wajahnya.

“Ibu bilang kakak harus memberi ade privasi, tapi ibu gak bilang kalau ade harus memberi kakak privasi.”

Aku berhenti sebentar dan kemudian membalas senyumnya. Aku melepas bajuku, lalu perlahan-lahan menurunkan celana pendek dan celana dalamku. Alih-alih berpakaian aku hanya berdiri di sana beberapa saat, benar-benar telanjang di depannya, penisku perlahan mengeras. Tiba-tiba aku mendapat ide sedikit nakal, “Kakak baru ingat ada materi yang harus kakak copy untuk kelas Ilmu Sosial nanti.” Aku berjalan ke arah komputer tepat di sebelah Ditta, dan dia memutar kursinya menghadapku. Saat aku mengulurkan tangan ke mouse dan mengklik folder dokumen, penisku hanya tinggal beberapa senti dari wajah Ditta yang tersenyum. Jantungku berdegup cepat.

Ditta dengan santai meletakkan tangannya di belakang pahaku, lalu menoleh ke arah layar komputer. Telinganya hampir saja menyentuh kepala penisku, lalu dia berkata, “Kakak temukan apa yang kakak cari?”

“Eh, Iya,” kataku.

“Bagus, sudah waktunya pergi, sebaiknya Kakak segera bersiap-siap.” Dan dengan tersenyuman lebar, dia berbalik dan beranjak dari kursi tanpa menyentuhku dan meninggalkan ruangan.

“SHITTTT!!!“ rutukku dalam hati.

BAB III b

Setelah kuliah selesai, aku bergegas mencari Ditta. Hari ini kamis, malam Jumat, dan aku Sangat bersemangat atas apa yang mungkin akan terjadi malam ini. Seperti kemarin aku melihatnya berdiri di dekat Merry dan Cindy, teman-teman lamanya yang telah meninggalkannya padanya awal semester ini untuk bergabung dengan kelompok perempuan yang lebih populer. Aku takut mereka akan mengejeknya seperti yang mereka lakukan kemarin, tapi saat aku mendekat, aku menyadari bahwa Merry sedang bercakap-cakap dengannya lebih santai, tampaknya mereka sedang membuat rencana untuk sesuatu.

“Siap untuk pulang?” Aku bertanya.

“Ya,” katanya. Dia kembali menatap Merry dengan senyuman sopan. “Sampai ketemu nanti malam.”

Kami berjalan ke mobil, dan dia menceritakan apa yang telah terjadi.

“Merry bilang dia ingin menjadi temanku lagi. Ternyata teman pacar Merry, Rio, mengatakan aku cantik.” Aku tidak bisa membantahnya. “Merry bilang dia mau ngajak ade pergi hang-out nanti malam, kalau Rio menyukai ade, ade bisa jalan bareng lagi dengan Merry dan Cindy.”

Aku langsung tak bersemangat saat adikku mengatakan ini, aku mungkin akan kehilangan sesuatu yang baru saja kami mulai, juga kebersamaan kami.

Ditta kesulitan menyesuaikan diri dengan teman kuliahnya yang baru setelah Merry dan Cindy meninggalkannya. Ini bukan sesuatu yang bagus menurutku, tapi aku tahu Ditta sangat ingin bergaul sama seperti temannya yang lain. Pilihanku hanya harus mendukungnya dan mengawasinya.

“Kami akan dobel date dengan Merry dan pacarnya malam ini, mereka akan menjemput ade jam 6 untuk makan malam dan nonton di bioskop.” Aku tahu dia sedikit takut mengatakan ini padaku. Kupikir kami berdua tahu, ini bisa mengubah hubungan kami kedepannya, tapi aku masih ragu-ragu mengijinkan adikku untuk pergi. Aku juga tahu bahwa kami tidak dapat melakukan hubungan ini selamanya, pada akhirnya salah satu dari kami akan memiliki jalannya sendiri-sendiri.

“Yah, Kakak rasa dia akan menyukai Ade. Ade adalah gadis yang cantik dan manis,” kataku, menyanjungnya agar dia lebih percaya diri.

Kami mampir ke mal untuk membeli baju baru dan pulang ke rumah agar bisa bersiap-siap. Pada pukul enam Rio menjemputnya. Malam yang aku nanti-nantikan jadi sepi, aku memutuskan untuk pergi ke bioskop diam-diam. Aku tahu itu konyol untuk mengikutinya, tapi aku masih belum mempercayai Merry setelah beberapa kejadian terakhir dan merasa perlu untuk melindungi Ditta, bahkan jika aku perlu aku siap mempermalukan diriku sendiri .

Aku menunggu beberapa saat setelah mereka pergi lalu aku menyusul menuju ke bioskop, aku mengenakan topi agar tak mudah dikenali. Saat aku mengantre untuk membeli popcorn, aku melihat Ditta dan tiga kawannya masuk ke ruang teater. Aku membawa popcorn dan mengikuti mereka. Teater kebetulan tidak terlalu ramai, jadi dengan mudah aku bisa melihat Ditta dan Rio duduk beberapa baris dari atas. Sebaris di belakangnya adalah Merry dan pacarnya. Aku menuju ke barisan paling atas tanpa ada yang memperhatikan.

Saat film dimulai, aku melihat Merry mulai bercumbu dengan pacarnya. Setelah beberapa menit, aku melihatnya bergoyang-goyang di kursinya, lalu dia bangkit dan kepalanya menghilang ke pangkuan pacarnya. Tidak heran dia jadi populer begitu cepat.

Merasa khawatir akan kondisi Ditta, aku melihat Rio memeluknya dan berbisik padanya. Sepertinya dia berbicara dengan baik, tapi aku tahu Ditta pasti tegang. Rio terus berusaha menariknya mendekat dan terus berusaha melakukan sesuatu pada Ditta. Aku memutuskan untuk bertindak. Aku menyelinap ke barisan di depan mereka, dan berjalan seolah-olah aku baru saja datang dan sedang mencari tempat duduk. Saat melewati mereka, aku pura-pura tersandung dan hampir jatuh.

“Maaf, saya gak lihatt, terlalu gelap,” kataku. Rio menepisnya dan berbalik menghadap Ditta, tidak tahu siapa aku sebenarnya. Ditta, tentu saja, hafal suaraku, tapi dia diam saja. Aku berjalan melewatinya dan kembali ke tempat dudukku untuk berjaga-jaga, dia harus menyelesaikan sendiri masalah ini.

Setelah beberapa menit, Rio menjadi lebih berbicara agak keras. Merry, rupanya telah selesai, dan menghampiri mereka. Suara mereka terlalu pelan untuk kudengar, sampai akhirnya Merry berbicara cukup keras.

“Dasar anak mama, Ditta, Rio adalah temanku Kita sekarang dah kuliah, Jangan jadi gadis pemalu napa sih, pulang aja deh lo sana main sama boneka Barbie lo! Dah tinggal aja, dia cuma seorang gadis kecil yang takut untuk jadi orang dewasa, Rio. ” Ditta bangkit dan praktis berlari dari teater. Aku bangkit dan mengikuti saat ke tiga temannyanya terus mengoceh di kursi mereka sendiri.

loading...

Di luar, aku takut Ditta akan menangis, tapi aku menemukan ketenangannya yang mengejutkan. Dia berjalan menghampiri ku dan menggandeng lenganku mengajak ke tempat parkir mobilku dan pulang ke rumah.

Dalam perjalanan pulang kami hanya diam dengan pikiran masing-masing. Lalu keheningan pun pecah saat Ditta mulai bercerita tentang apa yang terjadi didalam bioskop tadi.

loading...

“Rio mengeluarkan penisnya tadi di sana, Merry telah memberitahu Rio kalau ade akan memberinya blowjob, ade gak bisa melakukan itu, kami kan baru pertama kali ketemu.”

“Maafkan aku, Ditta, Merry sepertinya salah gaul dan jadi seperti pelacur, itu saja, santai aja, kamu nanti akan mendapat teman baru yang jauh lebih baik dari dia.”

Sudah larut saat kami sampai di rumah dan Ibu sudah tidur. Kami langsung menuju kamar untuk tidur. Setelah kejadian tadi, aku pikir dia sama sekali tidak dalam mood yang baik, jadi aku memutuskan untuk tidak mengganggunya. Kami masuk ke kamar dan menutup pintu. Ditta berbalik ke arahku dan memelukku erat-erat. Kupikir dia masih sedih dengan kejadian Merry tadi.

“Ini adalah saatnya memainkan peran seperti apa yang mereka inginkan. Satu-satunya saat ade bisa menjadi diri sendiri adalah waktu bersama Kakak.”

“Teman sejati tidak memaksa dan membuat Ade melakukan sesuatu yang tidak Ade sukai,” kataku padanya.

Ditta mengangkat kepalanya dari bahuku dan menatap mataku sesaat. Lalu wajahnya mendekat dan menempelkan bibirnya ke bibirku. Kami saling berpelukan dan berciuman. Lidahnya perlahan meluncur masuk ke dalam mulutku, dan akupun membalasnya, lidah kami saling berkait. Saat lidah kami berputar bersama, ia luluh di pelukanku.

Dia menarik diri setelah satu menit, lalu mendorongku ke tempat tidur. Dia membungkuk dan menciumku lagi, tangannya membuka kancing dan membuka ritsleting celanaku. Dia meraih pinggir celanaku di kedua sisinya, dan aku mengangkat pantatku ke atas. Lalu dia menarik celana panjangku dan celana dalamnya sekaligus dari atas ke bawah, membebaskan penisku. Dia kemudian bangkit dan melempar celanaku sembarangan. Dia menarik gaunnya ke atas melepasnya, lalu meraih ke belakang punggungnya dan dengan cepat melepaskan bra hitamnya, melemparnya, lalu membantuku melepas bajuku.

Dia membungkuk dan mulai menciumku lagi. Jemarinya, mulai dari lututku, mengelus sepanjang pahaku, berhenti sebentar di zakarku sebelum menelusurinya sampai ke ujung kepalanya. Aku mengangkat tangan dan mengangkat bagian belakang kepalanya. Jariku meluncur turun melalui rambutnya yang panjang di sampai punggungnya lalu ke pinggangnya, kemudian menelusuri sisi tubuhnya dengan lembut. Mencapai payudaranya, jariku menelusuri tepiannya. Saat dia membungkuk, payudaranya menggantung, puting susunya menunjuk dada telanjangku, kedua tanganku langsung meraihnya dan meremasnya. Tangannya menggenggam penisku, membelai perlahan.

Dia bangun lagi, tidak pernah melepaskan tangannya dari penisku, dia menarik celananya dan duduk di sampingku. Kami sudah sama-sama bugil sekarang. Ragu-ragu sejenak, dia kemudian membungkuk dan memberikan ciuman lembut ke kepala penisku. sekali lagi dia lakukan itu, lama-kelaman dia mencoba sedikit lebih lama dan sedikit lebih dalam. Sambil memegangi tanganku, dia menjilati batang penisku dari pangkal dan kembali lagi ke atas. Sekali lagi di kepala, dia mencium lebih dalam lagi, dan aku merasa lidahnya mulai menjilati lubang di ujungnya. Dia melanjutkan, setiap ciuman menjadi lebih intens dan akhirnya bibirnya sepenuhnya melahap kepala penisku, bibirnya membungkus seluruh kepala penisku dan menahanya di mulutnya. Masih di dalam mulutnya, dia mengusap lidahnya ke satu sisi kepala penisku, lalu ke sisi satunya lagi. Tangannya mulai naik-turun sepanjang batang penisku, dan dia mulai menghisap dengan lembut, lidahnya bergoyang-goyang di ujungnya.

Aku harus mengalihkan perhatianku jadi aku tidak langsung keluar di mulutnya saat itu juga, sebab rasanya begitu luar biasa. Aku mengusap-usap tanganku ke pantatnya, dan dengan lembut menarahkan jariku ke sepanjang belahannya. Dia bergeser untuk memberi aku akses yang lebih baik ke kemaluannya, lalu aku sedikit membungkuk untuk membungkus dapat melihat dengan jelas vaginanya. Setelah sebelumnya menangkupkan tanganku di dadanya, aku meluncur turun ke perutnya ke atas vaginanya. Napasnya semakin cepat dan dia mulai membelai lebih cepat juga. Dia meneluarkan penisku dari mulutnya dan mengusapkan lidahnya ke atas dan ke bawah penisku, lalu melahap kepala penisku lagi. Kakinya melebar terbuka, dan jari-jariku menyentuh lembut bulu dan kulit bibir vaginanya. Aku membuka bibir vaginanya, cairan bening keluar dari dalam vaginanya, sehingga vaginanya basah sekali dan menimbulkan suara saat ku sentuh. Jariku meluncur ke dalamnya dengan mudah.

Tanganku bergerak liar di vaginanya, aku menyesuaikan gerakan tanganku dengan kecepatan gerakan kepalanya saat mulutnya melahap penisku. Jari jempolku ku gunakan untuk mengusap clitorisnya, saat dia makin kuat menghisap penisku, dengan cepat dia tampak mendekati klimaksnya. Dia tiba-tiba menjepit tanganku dengan ke dua pahanya, mulutnya melepaskan penisku. Dia menarik napas dalam, mulutnya terbuka lebar tak bersuara, matanya terpejam dan dia mengejang beberapa kali dengat kuat, dia telah orgasme. Sesaat setelah dia orgasme, sadar kalau aku belum dia mengocok penisku lagi, mengarahkan kepalanya ke selangkanganku dan mulutnya kembali mengulum penisku, kepalanya bergerak cepat naik turun, dia menghisap dengan kuat membuat aku tak kuat lagi menahan gelombang rasa yng luar biasa enaknya, pantatku aku terangkat ke atas, lalu tubuhku kaku penisku menyemburkan sperma di mulutnya. Berulang kali aku tersentak, dan berulang kali penisku menembak banyak sperma di mulutnya.

Setelah reda dari gelombang nikmat itu, kami bangkit untuk membersihkan diri. Dia menoleh kepadaku dan tersenyum, dan aku melihat spermaku sebagian meleleh di bawah bibirnya hingga ke dagunya, dengan beberapa gumpalan menempel di dadanya dan beberapa membentuk garis di pinggir bibirnya. Aku tak tahu kemana sisanya, apakah dia menelanya atau tidak aku tak bertanya padanya.

“Di sini diruangan ini, hanya ada kita berdua, dan di sini sde bisa menjadi diri sendiri dan bebas melakukan apa yang ade mau bersama kakak. Ade gak perlu malu lagi.” Dia mengulurkan tangan ke wajahnya dengan satu jari dan menyeka sisa spermaku dari bibirnya.

loading...
www.sedarahceritasex.com