loading...

loading...

Berbagi Kamar Dengan Adik Perempuanku 5

Berbagi Kamar Dengan Adik Perempuanku 5 -
loading...

BAB V

loading...

WAKTU DITTA TIDUR

“Bangun, Ditta.” Aku keluar dari kamar mandi dan mendapati adik perempuanku masih. Aku mencolek bahunya. “Ayo, hampir waktunya untuk kuliah.” Dia tidak bergerak. Agak kesal, aku mulai menggoyangnya. “Ditta Bangun!” Dengan sedikit bergerak, dia mencoba berguling, tapi aku praktis menariknya tegak.

“Jam berapa sekarang?”

“Kamu dah kelamaan tidur, Kamu hanya punya waktu 15 menit untuk bersiap-siap. Cepatlah, kakak gak mau terlambat.”

“Kakak kenapa gak bangunin adek dari tadi.” Ditta bangun dan menghilang ke kamar mandi.

Sudah lebih dari seminggu sejak malam yang menentukan ketika kamar Ditta rusak oleh hujan badai, merusak sebagian besar barangnya, menghancurkan karpetnya, dan memaksanya pindah ke kamarku sampai selesai diperbaiki. Setelah menghabiskan malam yang berat tidur di lantai, dia memaksa ku berbagi tempat tidur, dan dalam kesepian kami, keinginan bersama untuk menuntaskan hasrat kami, telah saling memuaskan dalam tujuh malam yg panas. Kami tentu saja harus menyembunyikan ini, terutama dari ibu kami. Untungnya, dia adalah orang yang luar biasa sibuk, fokus pada pekerjaan dan rumahnya, biasanya jika terlalu lelah untuk berbincang dengan kami dia lsg masuk kamar tidur setelah selesai makan malam dan beres-beres. Tetap saja, untuk menjaga kerahasiaan, mutlak bagi kami menunggu sampai larut malam untuk memastikan dia tertidur.

Jika malam kalau ibu masih menonton film sampai tengah malam. Kami akan menunggu dengan tenang dengan lampu kamar masih menyala, kadang sambil menunggu aku akan mencari situs porno incest di komputer sampai kami yakin dia sudah tidur. Ketika akhirnya tiba, kami saling melompat, menggosok dan meraba-raba, saling merangsang menuntaskan nafsu. Aku akan membelai dan meremas, menjilat dan menghisap semua titik yang membangkitkan nafsunya selama tiga malam berturut-turut, dan selalu diakhiri dengan dia orgasme dengan jariku berada di dalam lubang vaginanya dan bibir aku mengisap klitorisnya. Dan selama itu aku masih menjaga keperawanannya jangan sampai terambil oleh jariku.

Dalam perjalanan ke sekolah, Ditta bercerita tentang temannya yang baru, Suzy. Ditta adalah seorang mahasiswa baru, dan telah mengalami kesulitan untuk menemukan teman sejak lulus SMA dua bulan yang lalu. Teman baiknya dari SMA telah mencampakannya untuk bergabung dengan kelompokyang lebih populer kampus. Dia berusaha keras untuk bisa kembali bergaul bersama mereka, tapi usahanya terhenti setelah kawan pacarnya memaksanya berbuat mesum di bioskop. Aku pikir mungkin hubungan kami yang baru telah membantunya dalam bergaul, dan memberinya kepercayaan diri untuk menemukan teman baru yang lain.

“Oh Ya Ade lupa kasih tahu, ayah Suzy akan mengajak kami ke mal sepulang kuliah, jadi Kakak gak perlu jemput Ade pulang hari ini,” kata Ditta padaku.

“Selamat bersenang-senang kalau begitu,” kataku. Aku senang untuknya, tetapi juga cemburu, waktuku untuk menghabiskan malam yang panas akan berkurang malam ini. Ditta tahu kalau aku kecewa.

“Kakak gak pa pa?” dia bertanya.

Aku mendesah sedikit. “Ya, Kakak ok ok aja.”

Ditta berpikir sejenak. “Ade tahu, Ade bangun kesiangan dan lupa memberi Kakak salam selamat pagi.” Saat itu aku sedang menyetir, dia mengulurkan tangannya dan mulai membelai selangkanganku dari luar celanaku. Sesaat kemudian kami sampai di lampu merah, dan aku bersandar di kursi mobil. Dia melihat ke keluar jendela mobil untuk melihat apakah ada disekitar mobil kami yang bisa melihat ke dalam mobil kami, tapi mobilku adalah pick-up double cabin yang cukup tinggi, jadi tidak ada masalah. Dia membuka ikat pinggang celanaku, menurunkan risleting dan mengeluarkan penisku yang sudah keras sekarang. “Lampu hijau,” katanya, perlahan dia mulai membelai penisku. Aku jalankan mobil sementara ditta meng-oral penisku, sensasi dan rasa yang dihasilkan sungguh sangat berbeda antara melakukan di rumah dan di mobil, rasa takut ada yang akan memergoki kami dan rasa nikmat penisku di oral Ditta membuat aku sangat ingin orgasme sebelum sampai di sekolah, tapi kondisi aku mengendarai mobil cukup mengganggu buatku dan jarak ke tempat kuliah sudah dekat. Saat kami mendekati tempat parkir, Ditta melepaskan penisku dan kembali duduk tegak di kursi. “Sudah gak cukup waktunya, kita lanjut nanti aja.” Shiiittt! Gantung lagi.

Aku mengantisipasi kata ‘nanti’ sepanjang hari dari pagi sampai siang, hingga di rumah, menunggu Ditta kembali dari mal. Entah bermain dengan kucingku atau duduk di sofa menonton TV, aku menghabiskan waktu sambil memikirkannya dan mengingat apa yang telah kami lakukan bersama. Adegan acak melintas di pikiranku: Tanganku meluncur ke balik piyama dan menggenggam dadanya untuk pertama kalinya, jari-jarinya menggenggam penisku, masturbasi di depan komputer sambil dia memainkan buah zakarku, mencicipi cairan manis yang menetes dari vaginanya setelah dia orgasme. Yang paling penting adalah nuansa hangat dan lembut dari kulitnya yang putih dan halus dan senyum penuh kasih yang menyebar di pipinya yang bundar saat kami melakukan semua itu.

Ditta akhirnya pulang sesudah jam delapan malam. Aku sedang duduk di kamarku mengerjakan beberapa tugas kuliah saat dia masuk. “Aku senang berteman dengan Suzy, kami memiliki banyak kesamaan.” Dia mengangkat tasnya. “Mau lihat apa yang kumiliki?”

“Mungkin nanti, Ibu ingin menonton film bersama kita lagi malam ini, dan semakin cepat kita mulai semakin cepat kita bisa tidur.”

Dia tersenyum, dan kemudian berkata dengan serius, “Ya, Ade juga cukup lelah hari ini.”

Pada awal film Ditta kembali ke kamar untuk salin baju tidur dan tidak kembali lagi. Aku menemani ibu lebih lama dari biasanya untuk menghindari dugaan macam-macam, tetapi menunggu adalah sesuatu yang menyebalkan. Sambil duduk menonton film yang terasa sangat panjang, aku membayangkan dia duduk di depan komputerku sambil melihat video atau gambar porno dengan jarinya sedang di dalam vaginanya.

Ketika film selesai dan Ibu masuk kamar tidur, aku menuju ke kamarku dengan penuh harap dan semangat, membuka ritsleting celanaku sebelum masuk. Aku menarik penisku keluar dan membuka pintu dengan perhalan agar tidak mengejutkan Ditta. Yang terjadi adalah malah aku yang terkejut sekaligus kecewa, Ditta terbaring di tempat tidur sudah terlelap, di balik selimut.

Sambil mengangkat selimut, aku mencoba membangunkannya. Tak ada harapan, dia tak bergeming dan tetap tidur nyenyak.

Aku bersiap-siap tidur, berharap bisa tidur, tapi aku sulit memejamkan mataku dengan penisku yang masih mencuat tegak dibalik celana boxerku. Karena tidak ingin membuat Ditta terbangun dari tidurnya, aku memutuskan untuk melakukannya dengan cara lama dan duduk di depan komputer.
Saat aku melihat-lihat situs porno, setiap kali ada halaman baru yang terbuka, mataku selalu menoleh melihat Ditta tidur yang tidak jauh dariku. Aku memusatkan perhatian pada komputer, tapi setiap tampilan handjob, blowjob, dan gadis berambut hitam membuatku mengingat Ditta. Aku mencoba menonton video lesbian, tapi saat adegan sampai pada lidah salah satu gadis sedang mengoral vagina, mataku kembali ke Ditta. Setelah seminggu bersamanya, melihat video atau gambar porno tidak membantu sama sekali.

Aku berbalik kearahnya, berharap erangan-erangan yang kubuat mungkin akan berpengaruh. Lalu aku bangkit dari kursi pindah ke tempat tidur, menggoyang-goyangkannya. Tetapi tetap tidak membuatnya bergerak. Aku menatapnya. Dia berbaring miring menghadap ke arahku, mengenakan kamisol merah dengan satu tali yang tipis membuat kulit dan belahan dadanya terbuka. Payudaranya tercetak jelas oleh kain tipis itu, menunjukkan setiap lengkungan payudaranya, putingnya menempel dibalik kain bajunya menunjuk ke arahku. Meskipun bajunya sudah selesai di cuci dari binatu, dia kembali mengenakan celana boxer- pendek sebagai satu-satunya penutup pantatnya. Ukurannya terlalu besar untuknya, tapi masih jelas membentuk lekukan pantatnya yang bundar.

Aku menyentuhnya. Sampai saat ini dia masih tidak terbangun dengan apa yg kulakukan pada tubuhnya, tapi memanfaatkannya dalam keadaan seperti ini rasanya tidak benar. Tapi apa yang ada dalam kepalaku, aku tidak bisa menahannya. Aku terlalu horny saat ini, dan tidak bisa tidur. Aku kembali mengulurkan tanganku dan meletakkan tanganku di atas pinggangnya yang terbuka karena bajunya tersingkap hingga ke atas. Aku melingkarkan tanganku ke tubuhnya, menunggu sebentar kalau-kalau dia terbangun. Karena tidak terjadi apa-apa, aku melanjutkan meletakkan tanganku ke dadanya, memasukkan tangan ku ke balik kamisolnya, menangkupnya dengan lembut di tanganku, lalu mencubit putingnya. Berhenti sebentar untuk memeriksa apakah dia terbangun. Sambil dengan hati-hati, aku mengeluarkan payudaranya ke atas, menggesernya perlahan dari bawah. Dengan dua jari aku mengusap jemariku di sekitar dadanya, memainkan putingnya yang kanan, menariknya kadang memencet dengan pelan. Aku lalu memposisikan kepalaku di depan dadanya. Aku mencium puting susunya lembut, lalu mengisapnya sambil meremas dadanya dengan lembut. Nafsuku makin memuncak menuntut penyelesaian.

Aku menggerakkan tanganku ke bawah, dengan hati-hati menurunkan boxernya dari pinggangnya ke bawah dan mengintip tak ada celana dalam disana, terlihat rambut keriting hitam yang samar menutupi vaginanya. Lalu tanganku segera melucuti boxernya hingga lepas. Saat aku menyelipkan tanganku ke selangkangannya, Ditta tanpa terbangun, mengerang dengan lirih, dan dia bergerak berbaring terlentang sekarang. Aku menghentikan kegiatanku dengan tangan ku masih menangkup vaginanya. Nafasnya kembali ke nafas panjang dan pelan dan aku melanjutkan aksiku. Kakinya sedikit terbuka, dan aku lalu bangkit dan turun ke bawah kakinya agar bisa melihat lebih baik. Kaki nya terbuka sedikit lebar, dan di satu sisi kakinya terbuka menekuk keatas yang menunjukkan pahanya bagian dalam yang mulus, bibir vaginanya mengintip dan menunjukkan tonjolan kecil di bagian atasnya. Aku lalu membungkuk dan sambil membasahi bibirku, perlahan menarik satu kakinya agar terbuka lebih lebar, memberi pemandangan seluruhnya gundukan lembut vaginanya.

Sekali lagi memeriksa apakah dia masih tidur, dan aku memutuskan untuk memanfaatkan kesempatan itu untuk melakukan sesuatu yang belum pernah aku coba dengannya. Aku membungkuk dan dengan lembut mencium lubang pantatnya, mengusapkan jariku di belahannya. Dengan satu tangan, dengan lembut aku membuka belahan pantatnya, dan memeriksa Ditta sekali lagi, lalu aku menjilat jariku agar basah dan mulai membelai-belai anusnya. Aku cek lagi apakah ditta terbangun, menarik tanganku dari anusnya, lalu mengarahkannya ke vaginanya.
Melihat ditta tak bergerak aku lebih berani, aku menurunkan jariku perlahan ke bawah sampai mencapai bagian bawah vaginanya. Ku buka bibir kemaluannya menggunakan tangan kiriku dan dengan jari telunjuk kanan kusentuh bagian dalamnya. Licin, hmm ….apakah dia terangsang? Kulihat bagian dalamnya masihberbentuk cincin, lalu aku memasukkan jari tengah aku dan dengan lembut meraba daging merah muda di dalam.

Napas Ditta sedikit berubah, tapi masih tetap terpejam matanya. Dengan hanya menggunakan jari telunjukku, aku menggoyang-goyangkannya jariku di antara bibir vaginanya, dan dengan ibu jariku aku tusuk lobang anusnya.

Aku membeku saat Ditta sedikit bergumam. Suaranya tidak begitu jelas. Kakinya tiba-tiba menutup menjepit tanganku, jariku masih menempel di antara bibir vaginanya. Aku menggoyang-goyangkan jariku lagi, menggerakkannya sampai ujungnya hampir menyentuh selaput perawannya, lalu kutarik dan ku putuskan untuk lebih intens mengaktifkan ibu jariku, perlahan-lahan mendorongnya masuk dan menariknya secara berulang. Dia mengangkat pinggulnya sedikit keatas, dan aku sadar aku tidak bisa meneruskannya tanpa membuatnya terbangun.

Aku terus saja meluncurkan jariku keluar dan masuk dari vagina dan anusnya, dan memikirkan apa yang harus kulakukan selanjutnya. Ini semakin membuatku bergairah, tapi tidak akan menuntaskan birahiku. Aku mendongak menatap wajahnya untuk memeriksa matanya, dan melihat bahwa mulutnya sedikit terbuka. Masih tertidur, dia menjilat bibirnya sedikit untuk melembabkan bibirnya, seolah-olah ingin mencium sesuatu.

Aku tak kuat lagi melihat bibirnya jadi aku putuskan aku akan entot mulut adikku. Aku yakin itu akan membangunkannya dan dia pasti akan marah, tapi aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku menarik tanganku dan bergeser ke atas tempat tidur. Menggenggam penisku, dengan hati-hati aku memposisikan ke wajahnya. Dengan lembut aku mengusap kepala penisku di pipinya. Cairan precum mulai menetes dari ujung penisku, dan aku membiarkannya menetes dibeberapa bagian wajahnya. Mulutnya masih sedikit terbuka, dia mengerutkan dahinya, dan dengan hati-hati, aku menempelkan penisku ke bibirnya. Aku mengarahkan ujungnya menekan bibir bawahnya, lalu ke bagian atasnya, merasakan kelembutan dan kelembapannya dan napas hangat yang keluar dari mulutnya.

Aku menekan penisku dengan lembut di antara bibirnya sampai menyentuh giginya, kepala penisku hampir masuk ke mulutnya. Aku perlahan menggesek penisku pada giginya. Tiba-tiba dan perlahan, dia menutup bibirnya di kepala penisku. Rasanya luar biasa saat kepala penisku tertekan lembut oleh bibirnya. Mulutnya terbuka lagi, dan aku merasakan ujung lidahnya menempel di penisku, tapi hanya sesaat. Bibirnya menutup lagi menekan lembut di sekitar kepala penisku, tiba-tiba saja dia menghisap membuat seluruh kepala penisku masuk mulutnya. Dia menggeser tubuhnya sedikit dan bersuara “Mmmm” yang lembut. Aku tidak percaya dia masih tidur!

Mungkin ditta sedang bermimpi yang menyebabkannya mulai menghisap lembut apa yang ada di mulutnya. Aku ikuti irama hisapan penisku di mulutnya. Lidahnya ikut bermain menekan kepala penisku, menambah sensasi nikmat. Mulut Ditta menghisap sedikit lebih keras, dan aku merasakan lidahnya menempel di lubang kepala penisku, Ditta terus menghisap seperti bayi sedang menyusu, hanya saja ini sama sekali berbeda.

Semakin lama hisapannya makin kuat dan intens, aku merasa spermaku sudah di ujung puncaknya, dengan segera aku menarik keluar penisku dari mulutnya dan aku akhirnya orgasme. Aku agak bergeser dan muncratan kuat yang pertama melintas melewati dadanya, sisanya bahkan hampir sampai ke vaginanya. Dan terahkir sisanya menetes ke bawah penisku dan jatuh ke pipinya, yang perlahan meluncur turun ke dagunya. Dia kembali membasahi bibirnya dengan lidahnya dan kemudian menutup mulutnya.

Aku masih khawatir apa yang akan dipikirkannya jika dia terbangun dan tahu apa yang telah kulakukan. Aku mengambil tisu dan dengan lembut menyeka spermaku dari wajahnya perlahan. Penisku perlahan lemas, aku melompati tubuhnya dan meringkuk disampingnya. Dia berbalik memunggungiku, dan aku merapat ke punggungnya, merasakan kehangatan tubuh adikku yang hangat dan memposisikan penisku yang masih setengah tegang diantara belahan pantatnya. Aku berbaring di sana dan perlahan mulai tertidur.

Sesaat Ditta bergerak lagi, kepalanya menoleh ke arahku. Saat aku hampir tertidur, bisikan lembutnya membuatku terjaga. Hatiku tiba-tiba berlomba karena takut dan menyesal, aku sudah bersiap dengan apa yang akan dia katakan.

loading...

“Lain kali, habiskan lebih banyak waktu di vagina Ade, Kak. Dan jangan keluar cepat cepat, Ade baru aja mulai terangsang.” Dia menggoyang pantatnya yang telanjang menggesek penisku dan mebiarkannya terjepit di antara pipi pantatnya, lalu menarik selimut ke atas tubuh kami dan tidur.
*******

loading...
www.sedarahceritasex.com