loading...

loading...

Berbagi Kamar Dengan Adik Perempuanku 6

Berbagi Kamar Dengan Adik Perempuanku 6 -
loading...

BAB VI

Kalah Taruhan

“So apa yang Kakak ingin lakukan malam ini?” Adikku Ditta berbaring di tempat tidur saat aku baru keluar dari kamar mandi. Saat itu hari Jumat, dan kami baru saja pulang dari kuliah dan di rumah hanya ada kami berdua.

“Ada beberapa hal sebenernya,” kataku. Aku berjalan mendekatinya, berdiri di samping tempat tidur.

“Ade rasa Ade tahu apa yang ada dalam otak Kakak.” Dia memajukankan kepalanya ke arahku dan menciumi penisku dengan lembut dari luar celana trainingku. “Tadi malam Kakak pasti kurang puas.”

Semalam, aku masuk ke kamar dan menemukannya sudah tidur nyenyak, dan aku terlalu horny untuk bisa tidur dan memutuskan untuk onani tetapi kurang puas jika hanya dengan menonton porno, Aku menyentuhnya saat adikku sedang tidur. Saat aku semakin berani, akhirnya aku menggosokkan penisku ke bibirnya sampai akhirnya bibir adikku melilit kepala penisku. Setelah beberapa saat aku mencabutnya dan orgasme. Baru setelah aku selesai dia terbangun.

Aku duduk di tempat tidur di sampingnya. Kepala kami berdekatan dan kami mulai berciuman. Setelah kami melepaskan ciuman, dia menarik diri kebelakang. “Ade baru ingat, Ade ada tugas sains yang perlu di kerjakan akhir minggu ini. Sebaiknya Ade mulai di malam ini juga.” Dia berkata sambil seperti berpikir. Aku pernah diajar oleh guru yang sama tahun lalu dan pernah mengerjakan tugas yang sama.

“Kakak ingat, bukannya itu tugas kelompok?”

“Ya, tapi anggota kelompok Ade yang lain tidak mau mengerjakannya dan malas–malas. Lebih baik Ade melakukannya sendiri.”

“Ditta, kamu tuh gak boleh selalu mengalah begitu,” kataku padanya. Ditta selalu pemalu, dan takut jika berargumen dengan temannya. “Kelompok Ade gak boleh begitu jika itu tugas kelompok, kenapa Ade mau aja disuruh kerja sendiri?”

“Ade gak tau, Ade Cuma gak mau di bilang ga toleran.”

“Ada perbedaan antara toleran dan kerja sendiri.”

“Maaf.”

“Gini aja, Ade harus berani bilang seperti ini,” aku mengajarinya. “Gak bisa! Kalian gak bisa begitu, ini kerja bersama setiap anggota harus mengerjakan bagian-bagiannya.”

Dia memutar matanya. “Baiklah, Aku akan coba lain kali.”

Dia mengerjakan tugas kuliahnya beberapa saat, lalu kami ke bawah untuk makan malam, kami putuskan untuk membeli burger saja di ujung jalan karena Ibu tidak dirumah dan tak ada yang memasak. Tak berapa lama kami sampai dan memesan makanan,setelah pesanan kami datang dan kami menuju meja makan. Ditta membuka makanannya, mendesah sedikit dan mendorongnya ke samping.

“Pesanan kamu salah?” Dia mengangguk. “Balik lagi ke sana dan minta mereka membuat yang baru.”

“Gak apa-apa, Ade gak lapar.”

“Inilah yang Kakak bilang, konfrontasi sedikit gak apa-apa, mereka mendapatkan pesanan belasan kali sehari, mereka tidak akan peduli jika kita tidak komplen, kita membayarnya, mereka harus membuatnya dengan benar, sesuai dengan pesanan.” Dia masih ragu-ragu. Aku memutar mataku, bangkit lalu membawa burger miliknya itu kembali. Aku datang beberapa menit kemudian dengan yang baru. “Lihat.”

“Iya.” Dia jelas kesal saat menerimanya. Aku putuskan untuk membiarkannya untuk saat ini.

Kami pulang ke rumah dan Selama perjalanan pulang yang singkat itu Ditta hanya diam, baru setelah sampai dirumah dia mebuka suara bilang dia mau olah raga lari sebentar. Takut kalau dia makin marah padaku, aku putuskan untuk menemaninya berolah raga ke taman. Ditta masuk kamar dan berganti pakaian, dia menggenakan kaos tanpa lengan warna abu-abu dengan celana pendek merah yang menampilkan seluruh kakinya yang mulus. Dia mengenakan sepatunya dan turun ke bawah. Sedang aku hanya mengganti kausku. Kami berjalan ke taman seperti yang biasa telah kami lakukan bertahun-tahun. Ketika kami tiba di sana, kami melalukan stretching sebentar.

“Kakak nyebelin,” katanya padaku. Dia jelas masih kesal.

“Kakak gak pa pa kok.” Aku kembali melalukan pemanasan .

“Kakak seharusnya membelaku” katanya lagi.

“Kakak selalu membela kamu.” Jawabku lagi.

Dia mendengus kesal lalu mulai lari mengeliling taman, aku mensejajarkan dengan dirinya. Saat kami sedang berlari ada 2 ekor anjing kampung berlari menghampiri kami. Dua ekor anjing ini sudah mengenal kami dengan baik, kami menemukannya saat mereka masih kecil-kecil, sayang kami tidak diijinkan merawatnya dirumah jadi kami putuskan menyimpan mereka ditaman. Hampir setiap hari kami kesini untuk memberi susu atau makanan yang kami curi dari kulkas dirumah. Sekarang setelah mereka besar-besar mereka menjadi dekat dengan kami. Aku bermain dengan salah satu anjing itu yang kami beri nama Willow, dan Ditta bermain dengan anjing satu lagi si Pillow. Tiba tiba Ditta memiliki ide untuk bertaruh dengan menggunakan pillow dan willow.

“Ok, aku yakin Pillow bisa mengalahkan Willow saat ini.” Kata ditta

Aku mengambil sebatang ranting patah dan melemparkannya jauh Willow langsung berlari dan mengambilnya kemudian mengembalikannya padaku, lalu Aku melemparkan ranting tadi ke Ditta. Saat dia sedang memungutnya, aku melangkah mendekati Pillow. Saat Ditta melempar ranting, aku meraih ekor Pillow, memberi kesempatan Willow berlari lebih dulu. “Pillow terlalu maju.” Kataku.

“Curang, kakak takut balapan yang fair.”

Willow selalu menjadi anjing yang lebih cepat. Sebenarnya tidak ada pertanyaan siapa yang akan menang, tapi sekarang Ditta telah berkomitmen untuk mendukung Pillow. Aku memutuskan untuk memanfaatkan ini. “Ngomong-ngomong, apa yang kita taruhkan?”

“Yang Kalah harus menjadi budak yang menang selama sehari penuh.”

“Baik.” Itu adalah taruhan yang pernah kami lakukan beberapa tahun yang lalu. Dan aku keluar sebagai pemenang, dan waktu itu aku menyuruh Ditta membersihkan rumah dan membersihkan kamarku.Tapi kali ini adalah sesuatu yang baru dan aku sudah memiliki rencana-rencana dibenakku.

Gagasan sudah mengalir dari kepalaku untuk apa yang akan kulakukan dengannya. Ibu akan dinas keluar kota besok sampai hari Minggu, jadi hanya kami berdua dirumah. Aku bisa memenyuruh dia untuk memandikan aku dan berpakaian, atau menyuruhnya berpose bugil untuk ku photo. Aku tidak ingin membuatnya terlalu jauh dari zona nyamannya, tapi sedikit memaksa bisa membuatnya sedikit lebih binal. Dan yang paling penting, Aku ingin penisku bisa berada di mulutnya lagi. Aku bertanya-tanya berapa banyak blowjob yang bisa aku dapatkan dalam satu hari.

Aku menerima ranting dari Willow dan meberikannya lagi padanya. Dia berhenti sejenak. “Kakak yakin mau bertaruh sekarang?” dia bertanya.

Aku tidak akan mundur. “Kakak mau jika Ade juga mau melakukannya,” kataku, di suatu tempat antara percaya diri dan merendahkan.

“Baiklah,” katanya. Dia berbalik ke kiri dan melemparkan ranting ke arah yang berbeda dari sebelumnya, dan anjing-anjing itu bergegas menyusulnya. Aku bertanya-tanya mengapa dia melemparnya kearah itu, aku melihat ada anjing lain di sana.

Willow mungkin lebih cepat, tapi Pillow lebih fokus. Begitu Willow melihat ada anjing yang lain, dia bergegas ke sana. Ditta telah menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengajar Pillow mengikuti perintah dan menghindari gangguan. Willow baru saja mulai mengendus anjing lain itu saat Pillow meraih ranting yang dilempar Ditta.

Ditta terkejut dan terperangah, aku lemas. Dalam perjalanan pulang, Ditta tersenyum, bersiul, dan hampir melompat-lompat, jejak kekagetannya masih belum hilang.

Di rumah kami menuju kamarku untuk bersiap-siap tidur. Ditta masuk kamar mandi lebih dulu dan keluar dengan pakaian piyamanya; tank top putih dan celana pendek, sangat pendek. Dia menghampiri Aku dan perlahan memeluk Aku. Mulutnya mendekati Aku seolah ingin mencium, lalu dia berhenti tiba-tiba. “Sebaiknya kau tidur nyenyak malam ini, Besok akan menjadi hari yang panjang.” Dia melepaskanku dan meluncur melewatiku ke tempat tidur. Dia naik ke sisi yang jauh dan menarik selimut erat-erat di atas tubuhnya, menghadap jauh dariku. Untuk pertama kalinya dalam seminggu, Aku harus tidur tanpa melepaskan memeluknya.

Aku terbangun di hadapan Ditta pada hari Sabtu, cukup awal untuk melihat Ibu ku mempersiapka segala sesuatu untuk kami. Aku sarapan lalu duduk di sofa, bertanya-tanya apa yang akan direncanakan Ditta untukku.

Sekitar pukul 10 Ditta masuk dan duduk di sofa di sampingku. “Jadi, apa yang akan Kamu lakukan hari ini,” aku bertanya.

Dia tampak sedikit tidak nyaman. “Ini agak konyol, Jika Kakak tidak mau melakukannya, ok, Ade mengerti, Ade tidak mau Kakak melakukan sesuatu yang tidak Kakak sukai.”

Seharusnya aku tahu dia akan berkata seperti itu. Aku tidak tahan melihat sifat pengecutnya keluar lagi. “Kamu sedang dipaksa, Ditta, Kamu menang, Kakak harus jadi budak Ade hari ini.”

“Baiklah, Ade Cuma memastikan saja, karena Kamu sangat bersikeras bahwa Ade seharusnya tidak mengerjakan proyek itu sendirian, Ade sudah memutuskan untuk melakukannya. Ayo kita ke kamar.”

Kami menuju ke kamarku dan dia pergi ke lemari dan mulai membongkar barang-barangku. Aku bertanya-tanya apa yang dia cari, tapi perhatianku terlalihkan melihat pantatnya daripada bertanya. Celana pendek yang dipakainya untuk tidur sangat pendek dan ketat, dan ketika dia membungkuk sedikit, celananya tertarik ke dalam celah dan lekukan bagian bawah pantatnya.

Setelah beberapa saat, dia menemukan apa yang dia cari. Dia berbalik memegang dasi kupu kupu yang pernah Aku kenakan pada pernikahan sepupu kami tahun lalu. “Ini yang akan Kakak pakai hari ini.” Dia melemparkannya ke arahku, dan kupakai di leherku. Aku beralih ke komputer untuk memulai mengerjakan tugas sains adikku.

loading...

“Tunggu, Ade bilang Kakak pakai dasi kupu kupu itu, ade gak bilang apapun tentang kemeja atau celana.” Aku berbalik menghadapnya. Dia berdiri menunggu. Aku melepas bajuku dan celana, hanya menyisakan celana boxer-ku. Dia melangkah ke arahku. “Ini juga,” dia menempelkan jarinya karet pinggang boxerku dan menariknya ke bawah, Aku sudah stsengah ereksi membayangkan seharian akan dalam keadaan telanjang. Dia kemudian menarik celana dalamku ke bawah, sampai dia berjongkok, shinnga penisku berada tepat di depan wajahnya. Aku melangkah keluar dari celana dalamku dan dia membuangnya ke samping. Dia mengulurkan tangannya dan dengan ringan meraih penisku dengan ujung jarinya, lalu menggoyangkan kepalanya ke satu sisi, lalu yang satunya lagi, memeriksanya. Dia memegangnya lurus ke atas dan dengan tangannya yang lain, mengangkat buah zakarku, seolah menimbangnya. Dia membawa penisku kearah bibirnya, hanya beberapa centi jauhnya. Aku menunggu dan bersiap mendapatkan kenikmatan yang pertama, tapi.

“Hari ini akan sangat menyenangkan, tapi sekarang Kakak punya pekerjaan yang harus diselesaikan.” Dia memlepaskan tangannya dan berdiri. “Data untuk tugas sains ada di folder Ade di komputer, Ade mau nonton TV.”

Gubrakkkk!!!!!!!!!!!!

Kira-kira satu jam kemudian dia memanggilku ke ruang tamu. Aku berjalan ke sofa, sangat sadar akan ketelanjanganku. Karena telanjang, begitu dekat dengannya, Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak ereksi. “Ade mau makan siang,” katanya. Aku pergi ke dapur dan membuatkannya sesuatu. Aku membawanya dengan nampan dan meletakkannya tepat di depannya, berdiri di depan TV. Penisku menunjuk ke arahnya, melayang di atas makanannya. “Sepertinya enak,” katanya. Dia menepuk sisi sofa. “Tunggu di sini sampai Ade selesai biar Kakak bisa langsung membersihkannya.”

Aku berdiri di samping sofa saat dia makan, penisku tetap tegang dan mengarah padanya. Setelah selesai, aku membawa nampan itu kembali ke dapur lalu kembali ke ruang tamu.

“Aku perlu sesuatu sampai acaranya dimulai,” katanya. “Kemarilah ke sini lagi.” Aku berjalan ke sofa dan lagi berdiri di samping lengan tangannya. Ditta mencengkeram lenganku dan mengusap punggung jariku lalu tangannya bergerak ke pantatku, meremas dengan telapak tangannya. Dengan tangannya yang lain, dia menggelitik buah zakarku beberapa saat, lalu mengusapkan jarinya ke atas pangkal penisku dan naik melingkar di kepala penisku. Dia menggenggam penisku erat-erat dengan jari-jarinya dan mulai membelaiku, mengamati dengan saksama, perlahan Aku mulai mengeluarkan cairan pre-cum. Dengan tangannya masih di pantatku, dia menarikku mendekat ke arahnya, perlahan, sampai penisku mendekat ke bibirnya yang basah. Masih dengan tangannya yang membelai, dia menghirup cairan bening dari ujung penisku dengan tiga kali ciuman panjang, lalu mengusap lidahnya dari bagian bawah kepala sampai ujungnya lalu ke atas. Dia kembali ke ujung, lidahnya melayang-layang di lubang penisku, lalu melirik ke arah TV.

“Oop, pertunjukannya sudah dimulai.” Dia melepaskan pantat dan penisku dan kembali duduk disofa.

“Itu aja untuk saat ini. Sana terusin tugas Ade lagi.”

“Tapi…………!!!!!!.”

“Ingat… Kakak budakku hari ini.”

Begitu horny nya aku hingga aku tidak bisa bicara untuk membantahnya, aku berbalik dan berjalan pergi. Jelas dia akan menjadi orang yang sangat menyebalkan saat ini. Kuputuskan aku harus melepaskan sebagian nafsu ini. Aku masuk ke kamarku dan menutup pintu. Memindahkan semua buku tugas kelompok Ditta ke samping, Aku duduk di depan komputer dan mulai melihat-lihat situs porno dan mulai menyentuh diriku sendiri.

Setelah beberapa menit, aku mendengar derit pintu di belakangku.

“Ade pikir sebaiknya Ade mengecek Kakak, Ade gak ingat mengizinkan Kakak untuk Onani,” kata Ditta. Aku bahkan belum sempat untuk menutup browser di komputer. Ini bukan pertama kalinya dia masuk dan memergoki aku melihat video atau gambar porno. Aku sangat berharap bisa mengulang kejadian sebelumnya. Aku terus membelai diriku sendiri di depannya, berharap dia bisa mendekat dan membantuku. “Apakah Kakak masih menjadi budak Ade?” dia bertanya.

“Ya.”

“Kalau begitu, Ade mau Kakak sebaiknya melakukannya dengan ijin ade.” Dengan enggan aku melepaskan penisku. Dia naik ke tempat tidur di sebelahku dan duduk menghadapku. Dia membentangkan kedua kakinya dengan lutut tertekuk. Dia melihat komputer. “Itu sepertinya menyenangkan saat ini. Kenapa Kakak gak kasih lihat Ade beberapa gambar atau film?”

Aku mematuhinya, rasa kecewaku meningkat saat ini. Aku membuka beberapa foto dan video seperti yang pernah kami lihat sebelumnya. Gambar-gambar sperti handjobs dan pussy eating telah ku perlihatkan dan aku melihat tangan Ditta telah berada di antara kedua kakinya. Dia tidak mengenakan celana dalam rupanya dan kakinya menyebar lebar, celana pendeknya menempel di vaginanya. Rambut-rambut kecil keluar dari bawah kain di kedua sisinya. Jari-jarinya bergerak mulus di sepanjang garis bibir vaginanya. “Perlu bantuan?” Tanyaku penuh harap. Saat ini betapa horny nya aku. Penisku berdenyut-denyut.

Dia diam beberapa saat. “Gak, terima kasih.” Dia mengangguk kembali ke komputer. “Teruskan.” Aku hampir tidak bisa menaahan lagi. Aku mengklik video handjob. “Kurasa kontolnya lebih besar dari punya Kakak,” katanya. Dia menekankan kedua kakinya dan mengangkat pantatnya sedikit ke atas untuk menarik celana pendeknya , lalu mengangkat kakinya ke atas. Dia menarik celana pendeknya sampai lutut perlahan, memperlihatkan vaginanya yang telanjang. Bibirnya tipis dan lembut, aku cukup dekat sampai bisa melihat kulit itu diliputi oleh pori-pori kecil dimana rambutnya yang pendek tumbuh keluar. Dia menarik celana pendeknya sepenuhnya lepas dari kakinya dan membentangkan kakinya lagi, mengusapkan jarinya di vaginanya.

Aku sudah tak tahan lagi, aku harus membuat adikku mau melayaniku. Aku menutup video dan mulai mencari video yang lain, bertekad menemukan sesuatu yang bisa membuatnya melibatkanku dengan apa yng dilalukannya sekarang.

“Mari Aku tunjukkan beberapa porno lain yang Aku suka. Beri tahu Aku kapan untuk berhenti,” kataku. Beberapa video berikutnya menunjukkan blowjobs, deepthroat dan seorang gadis yang sedang mengisap buah zakar pria. Aku menatap Ditta dan dia menoleh ke arahku, tidak menunjukkan reaksi apapun. Dengan tangan kirinya, dia membentangkan bibirnya. Jarinya yang kanan bergerak di sepanjang daging merah muda di dalamnya, lalu masuk ke dalamnya. Dia memejamkan mata dan mengerang untuk menikmati jarinya, lalu menoleh ke arahku dan mengangguk ke arah komputer.

Aku melanjutkan menunjukkan seorang gadis dengan vibrator kecil di klitorisnya, yang lalu menyemprotkan cairan saat dia orgasme. Lalu video seorang gadis terikat di tempat tidur dan dientot mulutnya, lalu dia menelan semua air mani. Dua lesbian yang memainkan payudara masing-masing pasangannya dan kemudian saling menusukkan dildo.

Ditta tidak bergeming. Melihat aku menatapnya, dia menarik keluar jarinya dan mengarahkan ke klitorisnya. Dia memejamkan matanya lagi dan menggosok klitorisnya keatas dan ke bawah. Bibir vaginanya membungkus ujung jarinya saat jarinya ke bawah, layaknya bibir yang sedang mengulum penis. Dia mulai menggosok membuat lingkaran kecil. Tangan kirinya naik ke perutnya, mendorong bagian kausnya ke atas menyentuh payudaranya, dan meraih yang kiri, mencubit putingnya sedikit dengan jari-jarinya. “Mmmm,” erangnya.

Aku harus membuatnya lebih terangsang supaya dia memohon bantuanku. “Ini adalah salah satu favorit kakak,” kataku, dan membuka video lain. Adegan Threesome, dimulai dengan gadis berambut pirang dan berambut cokelat mengisap penis. Mereka terus bergantian saling hisamp dan kulum. Si rambut coklat membungkuk, membiarkan si pirang menjilati vaginanya dari belakang. Setelah beberapa saat di vaginanya, lidah si pirang itu berpindah menuju anus si gadis berambut cokelat itu. Aku menatap Ditta, berharap ini akan membuatnya semakin horny, ada sedikit perasaan menyesal mebuatnya sejauh ini. Namun, Ditta terus mengamati dan menggosok dirinya sendiri. Sepertinya dia tahu apa yang sedang Aku lakukan dan tidak akan mundur.

Dalam video tersebut, adegan berubah si pria menyetubuhi si rambut coklat dari belakang, sementara si pirang berada tepat di bawah mereka dan menjilati antara vagina dan penis. Kadang Dia menarik keluar penisnya dan mendekatkannya ke mulutnya, mengulum penis si pria atau menjilati vagina si rambut coklat .

Aku kembali menatap Ditta. Dia terus menggosok dirinya sendiri, sekarang dengan mata terpejam, aku tidak tahu apakah dia menonton video terakhir. Dia menggosok dirinya dengan kuat, dan tak lama kemudian tubuhnya tegang. Bibir vaginanya terbkuak lebar dan berkilau oleh cairan. Jemarinya bergerak begitu kuat hingga sekarang seluruh vaginanya terusap oleh setiap gerakan tangannya. Pahanya tegang dan menyebar begitu lebar sampai membuat seprai berantakan.

Dia mulai telah sampai pada orgasmenya. Tangannya yang bebas meremas seprai, dan kakinya tertekan ke tempat tidur. Pantatnya terangkat, pipi pantatnya mengejang, dan seluruh panggulnya bergerak ke atas dan ke bawah dengan gerakan yang tidak teratur. Bibir vaginanya lebar dan basah, dan aku bisa melihat vaginanya meremas berirama. Beberapa tetes cairan putih keluar dan meluncur turun dari pantatnya. Dia mulai rileks dan turun kembali ke tempat tidur.

Napasnya cepat seperti habis berlari, namun mulai mereda. Dia membuka matanya dan menatapku, wajahnya memerah. Aku tersenyum padanya. Matanya jatuh ke tubuh telanjangku ke arah penisku. “Kupikir ade sudah memberitahu kakak untuk tidak menyentuhnya.”

loading...

Melihat adikku masturbasi dan orgasme tanpa sadar aku mengocok penisku . Aku lalu melepaskannya. Penisku keras, dan berdenyut seirama detak jantungku. “Aku sudah menahan terlalu lama sekali, dan mulai terasa sakit,” kataku padanya.

Ditta duduk tegak. “Maaf, kita bisa menghentikan permainan tuan dan budak ini jika kakak mau, Ade tidak ingin membuat kakak tidak nyaman.”

Aku tidak bisa mundur sekarang. Itu berarti akan merusak kesepakatan kami, dan itu berarti juga aku telah melanggar kata-kataku sendiri. Aku tahu dia sedang memojokkanku, tapi aku tidak akan menyerah. Plus, aku benar-benar ingin tahu ke mana dia akan membawa permainan ini. Aku hanya menggelengkan kepala, lalu berkata “Anda ingin hamba menyelesaikan proyek anda sekarang, Bu?”

“Ya.”

Dia kembali memakai celana pendeknya dan berbaring di tempat tidur sambil membaca buku. Butuh waktu sekitar dua jam untuk menyelesaikan proyek ini.

Akhirnya aku selesai dan memberi tahu Ditta. Saat itu hari sudah mulai malam, sekitar satu jam lagi Ibu akan kembali. Aku memutar kursiku untuk menghadap Ditta di ranjang. “Sudah hampir malam, Bu, ada lagi yang anda ingin aku lakukan sebagai hambamu?”

“Kamu telah menjadi budak yang baik, Aku punya satu perintah lagi untuk kamu. Semua urusan sekolah ini membuat Aku pegal dan tegang, tolong pijat aku.” Dia melepaskan bajunya dan berbaring telungkup di tempat tidur.

“Mulai dari pundakku.”

Aku duduk di tempat tidur di sampingnya, kulitku yang telanjang menyentuh sisi tubuhnya. Aku dengan lembut menggeser rambut hitamnya dari bahu dan mulai memijat.

“Sekarang bagian punggungku.”

Dengan jempolku, aku menekan punggungnya, dia membiarkan jari-jari kedua tanganku meluncur di sepanjang sisi tubuhnya, kadang sambil membelai. Aku mengurutnya dengan kuat pada bagian punggungnya, sementara jari-jariku berusaha menyentuh sisi payudaranya. Jempolku bergerak kearah luar dari tengah punggungnya, membiarkan jariku mendekati payudaranya dan berusaha mencapai putingnya.

“Pijat kakiku.” Dia masih menggoda.

Aku bergeser untuk duduk di samping kakinya. Aku memijat betisnya, lalu naik ke pahanya. Aku bergerak perlahan, berhenti di bagian dalam pahanya.

“Lebih ke atas sedikit.” Sekarang dia semakin rileks. Aku memijat lebih ringan hanya di pahanya.

“lebih naik lagi,” katanya lagi. Saat tanganku bergerak ke atas, kakinya merapat. Jariku hanya beberapa cm dari kain penutup vaginanya, aku meremas sedikit pahanya, lalu tanganku naik untuk memijat bagian belakang pahanya, jempolku menempel di ujung pantatnya, tepat di bawah celana pendeknya. Aku memindahkan tangan ku ke paha bagian dalam dan kembali memijat, jariku kadang dengan sengaja ke sentuhkan ke permukaan kain celananya berusaha memancing birahinya. Rupanya ada hasilnya perlahan kakinya membuka sedikit lebih lebar.

“Sedikit lebih tinggi lagi.” Dia hampir berbisik. Pancinganku mulai membuahkan hasil, napasnya mulai cepat.

Tanganku naik di pantatnya, tepat di atas kain penutup pantatnya. Aku memijatnya di bulatan pantanya lalu turun ke pahanya, naik lagi ke pantanya berulang-ulang dan ke area selangkangannya, merasakan bulu- lembut yang sedikit keluar. Aku menarik tanganku kembali dan memindahkannya ke paha yang lain, mengulangi pijatan itu tapi berusaha untuk tidak menyentuh vaginanya.

Setelah Aku merasa cukup memijat area itu, aku mencoba mengarahkan jariku dengan perlahan-lahan dan dengan ringan menempelkannya di kain tepat di tengah vaginanya, lalu ku gerakkan dengan lembut ke atas dan ke bawah. Kadang menekan sedikit lebih keras, laluku buat gerakan spiral yang lembut.

Jariku terus bergerak disekitar vaginanya, dan dengan tanganku yang lain aku menarik kain lembut itu ke samping. Jariku dengan leluasa bisa mengeksplorasi celah vaginanya.

Posisiku saat ini sedang duduk di tempat tidur dengan tepi pantatku menempel di dekat lututnya, kedua lenganku terentang di pantanya. Saat jariku mulai masuk lebih dalam di dalam lubangnya, dia menggerakkan tangannya, meenjalar di pahaku sampai ke selangkanganku, dan mencengkeram penisku. Aku menarik jariku keluar dari lubang vaginanya dan memasukkan ke mulutku, mencicipi cairannya. Dengan ibu jariku, Aku memasukkan jariku kembali ke lubang vaginanya, dan sambil menggosokkan jariku ke bawah, dengan lembut aku usap klitorisnya.

Tiba-tiba dia melepaskan tangannya dari penisku dan mengangkat pantatnya ke atas, membuat tanganku terlepas dari lubang vaginanya. Dia menarik celana pendeknya ke lututnya, dan dengan pantatnya masih di udara dia menurunkan dadanya ke tempat tidur. Aku membantu melepaskan celana pendeknya dari kakinya. Saat aku mendekat untuk mengarahkan jariku ke vaginanya lagi, dia berbicara.

“Cium pantatku, budakku.” Aku terkejut dengan permintaannya. Aku tidak percaya adikku yang pemalu akan mengatakan ini. Aku tidak akan menolak. Aku pindah posisiku di antara kedua kakinya. Aku menatap kulit pantatnya yang putih dan halus, lalu dengan lembut menciumnya. Meskipun Aku pernah melihatnya difilm porno, Aku tidak pernah membayangkan akan melakukannya. Aku menganggap itu sesuatu yang aneh. Tapi saat ini aku sangat horni sekali, dan adikku yang pemalu menyuruhku untuk melakukannya, dengan segera akupun melakukannya. Aku terus menciumi dari pantat sebelah kiri, lalu berpindah ke yang lainnya, masing-masing ciuman semakin dalam sampai aku akhirnya mengusapkan lidahku di pantatnya.

“Tengahnya juga.” Aku mulai menciumi belahannya.

“Cium lubang pantatku,” katanya. Suaranya tidak begitu keras bukan seperti memerintah, tapi lebih seperti memohon. Terlalu horny untuk memikirkannya, aku mulai mencium lembut bagian dalam belahan pantatnya sambil kutarik kesamping pipi pantanya dengan tanganku. Aku menekan wajahku di antara kedua pipi pantatnya dan menempelkan bibir basahku ke lubang anusnya. Dia mengembuskan napas dengan tajam. Aku mengusap lidahku dalam lubangnya, lalu berputar dan membuat lingkaran kecil di atasnya. Dia melengkungkan punggungnya, menyodorkan selangkangannya ke arahku.

Tanganku reflek bergerak di sepanjang pahanya, Lidahku mulai menari-nari di celah di atas lubang pantatnya, mula-mula ringan, lalu lebih cepat lagi. Dengan setiap kesempatan lidahku turun semakin rendah, mencapai bulu di antara vaginanya. Setelah berhenti beberapa saat, aku bergerak lebih ke bawah dan mengusap lidahku di antara bibir vaginanya, Ditta terlonjak spertinya dia tak menduga aku akan ke arah sana, ku jilat clitnya. Aku mengulangi beberapa kali, lalu mengangkat tanganku menyentuh vaginanya dan mencoba menusukkan jariku ke dalam vaginanya.

Tiba-tiba dia bangkit dan menarikku. “Berbaring.” Perintahnya.

Aku menurutinya dan berbaring terlentang di tempat tidur, menunggu dengan harap apa yang akan Ditta lakukan. Ditta merangkak diatasku, payudara Ditta yang menggantung berada di atas wajahku. Sebelum aku bisa menggapai putingnya dengan lidahku, dia merangkak naik ke atas, memposisikan lututnya diatas pundakku. Sambil menjatuhkan lengannya, dia langsung menurunkan vaginanya ke wajahku. Dia membenamkan bibirku dengan vaginanya, segera saja bibir dan lidahku bekerja, menjilat mengulum dan apa saja yang aku bisa untuk memuaskan vaginanya.

Dia mengangkat vaginanya sedikit dari wajahku, dan aku tetap berbaring untuk menjilatnya. Dia memiringkan tubuhnya kebelakang, aku merasa tangannya menggenggam penisku. Dia menaik turunkan tanganya mengocok penisku. Tak puas hanya mengocok Ditta merubah posisi kami dalam posisi 69, kepala Ditta segera turun dan mulutnya melahap penisku.

Ku lingkarkan tanganku meraih bibir vaginanya sementara kusapukan lidahku di clitorisnya, ku gelitik bibir vainanya sambil jariku berusaha masuk ke lubangnya. Merasa bibirnya melilit penisku, aku menghisap dengan kuat clitnya, kutarik jariku keluar dari lubangnya lalu ku usapkan jariku di sepanjang bibir vaginanya ke atas dan bawah dengan cepat.

“ Aaaaaahhhhhhh…………………. kkkkkaaaaakkkkkk …….aku mau sssaaaammmpppaaaiiiii……….” dita menjerit

Tak berapa lama Ditta pun sampai pada klimaknya. Dia duduk tegak di wajahku, pahanya menjepit keras kepalaku saat dia orgasme, ada sedikit cairan yang keluar dari vaginanya, dengan lembut ku usapkan lidahku kesana merasakan cairannya.

Tangannya terus membelai penisku, dan tangannya yang satunya lagi menekan perutku. Tanpa menunggu lama saat masih menikmati orgasmenya dia kembali menurunkan badanya dan mulutnya kembali melahap penisku. Kepalanya bergerak capat naik dan turun sambil mulutnya menghisap penisku dengan ketat. Rasanya luar biasa membuatku tak tahan untuk segera orgasme. Beberapa menit kemudian aku mulai merasa spermaku sudah diujung penisku, tanpa menahan lagi ku semprotkan spermaku di mulutnya. Beberapa semburan masuk di mulutnya sebagian menyembur di bibir dan pipinya. Kocokan tangannya mulai melemah sampai akhirnya tangannya terlepas dari penisku.

Itu adalah orgasme terhebat hari itu. Semua yang ku tahan dalam satu hari ini akhirnya keluar semua . Ditta bergeser menjatuhkan tubuhnya disampingku, dia tampak kelelahan, kulihat spermaku menempel di pipinya dan sebagian mengumpal di sekitar bibirnya. Matanya terpejam dan dadanya naik turun dengan cepat. Tampaknya dia tak memperdulikan keadaan dirinya yang masih kotor dengan spermaku.

Butuh beberapa menit bagiku untuk turun dari puncak orgasme tadi. Aku hanya berbaring di tempatku dan menatap Ditta. Dia tersenyum padaku, dan aku melihat gumpalan putih di pucuk hidungnya, turun ke bibir atasnya dan bawahnya dan berhenti di dagunya lalu dia menghapusnya dengan jarinya.

Sambil tersenyum, dia akan mengatakan sesuatu, lalu berhenti sejenak dan mengalihkan tatapannya seolah sedang berpikir. Dia terkikik sebentar dan menoleh ke arahku. “Lihat, jika Kakak pikir Aku terlalu pasif, Kakak gak akan bisa mencium pantatku.” Aku tidak bisa menahan senyum pada lelucon buruknya.

To be Continued

loading...
www.sedarahceritasex.com