loading...

loading...

Kebahagiaanku yang Nyata 2

Kebahagiaanku yang Nyata 2 -
loading...

Hari ini sungguh membuatku senang dan bahagia, akibat ketidak sengajaan tadi pagi. Lucu juga sih kalo aku mengingatnya, kakak yang kutemui setiap hari di rumah selalu berpakaian lengkap eh gak tau nya tadi pagi dia polos tanpa sehelai benangpun, yah walaupun dia kalau dirumah sukanya pakai tanktop dan celana pendek ajasih. Tapi kali ini dia berbeda, benar benar bugil dihadapanku adik kandung nya sendiri. Cowok mana yang ga tahan kalau dihadapkan dengan tubuh molek dari kak Siska, aku aja yang adik nya langsung panas dingin rasanya. Tapi tadi aku nggak sempat melampiaskan sesuatu yang tertahan didiriku, ahh biarlah nanti saja sudah waktu pulang di rumah aku akan melampiaskannya. Lhoo ehh kok aku malah mikir ngaco sih, parah banget otakku ini, masa iya sih aku horny ke kakakku sendiri. Tapi mau gimana lagi ya namanya udah di ubun-ubun, bodo amat dah aku nanti bakalan melakukannya. Tersenyum senyum aku memikirkan kejadian hari ini, hingga….

Cepleek… dengan akurasi shot on goal yang mencapai 99% penghapus itu tepat mengenai baju dan celana ku, jadilah pakaianku saat ini ada noda hitam bekas penghapus papan tulis. Seluruh pandangan kelas tertuju kepadaku akibat lemparan itu. Ternyata Bu Nita yang selama ini kukenal guru yang ramah dan baik kini berubah menjadi pemarah hari ini.

“Arsyah kamu ngapain daritadi senyum senyum sendiri! Cepat maju ke depan dan kerjakan soal yang barusan ibu bahas!” Ucap beliau dengan nada yang marah, teman temanku pun hanya bisa tertunduk mendengar ucapannya, teman-teman sekelasku tiba-tiba membisu semua

“Mampus lu syah, bego juga sih udah tau lagi pelajaran malah ngelamun, bego bego bego!” batinku dalam hati dan aku hanya bisa terdiam seribu bahasa detik itu juga.

“Ayo cepet kerjakan soal barusan yang kita bahas ini, kalo kamu mendengarkan pasti bisa ngerjain ini!” ucap nya masih dengan nada marah, dan aku pun hanya bisa maju dengan pasrah saja

“Maaf bu saya tidak bisa” ucapku yang masih menghadap papan tulis dengan nada lirih dan panik

“Apa saya tidak dengar, kamu ngomong apa barusan?”

“Maaf bu saya tidak bisa mengerjakan soal ini, karena saya sedang tidak berkosentrasi mendengarkan” ucapku dengan lantang kali ini

“Nah inilah anak-anak pentingnya mendengarkan apa yang ibu sampaikan, kalau sudah seperti Arsyah begini gimana coba, mau ngerjain gabisa, mau nulis gabisa, mau nerangin apa juga gabisa, dan bla… bla…. bla…”

Bu Nita memarahiku didepan kelas dengan panjang kali lebar kali tinggi, pokoknya hari itu aku benar benar dibuatnya malu dihadapan teman-temanku, aku memang dikenal sebagai anak yang rajin dan pandai namun untuk urusan biologi seperti ini apalagi bab genetika, aku benar benar menyerah sudah tidak tau lagi aku bagaimana mencernanya untuk masuk ke otakku karena terlalu banyak dan rumit.

“Arsyah kamu sekarang cepat buat rangkuman dari bab genetika ini, kamu tulis dengan rapi, kumpulkan waktu jam pulang nanti di ruang guru, mengerti?”

“Mengerti bu.”

Aku lakukan saja apa yang diperintahkan Bu Nita suruh, daripada aku nanti mendapat nilai dibawah standar, bisa-bisa gagal aku mendapatkan jatah SNMPTN yang sudah ku persiapkan matang-matang sejak kelas 1 agar bisa masuk universitas idamanku tanpa bersusah payah untuk ujian lagi nantinya.

Ting tung “seluruh pelajaran hari ini telah selesai, sampai jumpa besok pagi dengan semangat belajar baru” tung ting.

Suara yang sungguh kunanti natikan, bukan aku saja sih tapi semua anak di sekolah ini, ya benar bel pulang sekolah. Aku pun bergegas menuju ke ruang guru untuk mengumpulkan tugas hukumanku dari Bu Nita.

Tok tok tok…

“Permisi bu, mau mengumpulkan tugas ke meja nya bu nita, meja nya yang sebelah mana ya bu?” Tanya ku seperti orang yang baru pertama kali masuk ke ruang ini, tapi memang sih aku jarang sekali masuk ruang ini.

“Ohh meja bu nita ya, itu tuh yang ada di paling pojokkan, nah itu ada bu nita nya, ga tau dah itu lagi ngapain.” Ujar salah seorang guru yang sudah senior di SMA ku ini

“Terima kasih bu” langsung saja aku melangkah ke meja bu nita, and…. damnnnnn why is she so beatutiful, ternyata dia lagi selfie di meja kerjanya , ini gilasih guruku kenapa cantik banget kalo pas lagi kaya begini.

Bu Nita
Hidden Content:

Anda harus like agar dapat melihat konten ini.

Terlepas dari kejadian tadi di kelas, kali ini aku benar benar terpesona dengan paras cantik dari bu Nita. Sungguh bu Nita adalah orang tercantik ketiga setelah mama ku dan kak siska. Paras nya yang masih muda ini menggetarkan hatiku seakan diriku ini ingin sekali memacari nya, tapi jangan sampai lah nanti bisa jadi headline koran lampu merah dengan judul “seorang siswa nekat memacari guru nya karena tidak tahan akan kecantikannya”. Bisa heboh seisi sekolah kalau baca berita itu, astagaaa ngomong apalagi sih aku ini, inget syah Bu Nita ini gurumu!

“Permisi Bu Nita ini tugas yang ibu berikan tadi, sudah saya kerjakan dengan rapi dan sepenuh hati saya bu, dan saya juga minta maaf untuk tidak mengulangi kejadian tadi bu, saya sudah kapok bu.” Ucapku memelas kepada Bu Nita agar ia mau memaafkan kelakuanku di kelas tadi.

“Ohh arsyah rupanya, sini taruh di tumpukan ini aja.” Dengan lembut Bu Nita menurunkan tumpukan-tumpukan kertas yang ada dihadapannya, segera aku pun meletakannya di tumpukan itu.

“Tentang yang tadi, ibu juga minta maaf ya syah, ga seharusnya ibu memarahimu secara keterlaluan didepan kelas tadi, pasti kamu malu ya tadi?” Tanya bu dengan nada lemah lembut seperti alunan melody yang indah ditelingaku.

“Nggak malu kok bu, memang sudah sewajarnya saya tadi dimarahin, memang saya yang salah bu karena melamun tadi.”

“Hmmm begitu ya, tapi jujur ya syah, kamu melamun apaan sih tadi kok saya lihat kamu sampe senyum-senyum sendiri? ” tanya Bu Nita dengan wajah yang curiga

“Ehh anu bu.. itu.. anuu…” kebingungan aku menjawab, sial aku harus jawab apa ini ya.

“Anuu apaan sih, yang jelas Arsyah kalo ngomong, kamu itu cowo!” Potong Bu Nita dengan nada yang menggoda sekali.

“Itu bu, tadi saya lagi mikirin, gimana nanti kalo saya masuk ke Universitas X bu hehehe.” Jawabku dengan sekedarnya untuk meyakinkan Bu Nita.

“Ohh itu ternyata, kirain kamu lagi mikirin……” Ucap Bu Nita dengan kata-kata yang tidak selesai itu.

“Hahahaha ga jadi deh syah, eh iya ngomong-ngomong kamu nanti mau masuk jurusan apa syah?”

“Saya sih pengennya masuk fakultas kedokteran bu, itu udah cita-cita saya sejak kecil dan juga dulu almarhum ayah juga berpesan kalau sebaiknya aku jadi dokter juga seperti beliau bu” Jawabku dengan mantap tanpa keraguan sedikitpun.

Memang itulah cita-citaku sejak dulu dan aku juga terinspirasi dengan pekerjaan ayahku dulu sebagai dokter. Menurutku, dokter adalah seseorang yang berjiwa mulia, dia mendedikasikan dirinya demi orang lain. Beban yang ditanggung juga sangat besar, jika seseorang yang ditolongnya itu tidak berhasil atau dengan kata lain tidak sembuh, dia akan dicaci. Ya begitulah kehidupan seorang dokter, namun aku sangat tertarik sekali untuk menggelutinya.

“Wahhhh hebat kamu punya keinginan jadi dokter, kalau kamu memang berniat untuk masuk kedokteran kamu harus belajar dengan sungguh-sungguh syah, karena masuk ke fakultas itu tidak mudah syah dan juga nilai nya juga harus tinggi di bidang biologi nya.” Ujar Bu Nita yang mengingatkanku akan nilaiku dalam pelajaran biologi yang tergolong dibawah rata-rata daripada nilai pelajaran yang lain, memang susah pelajaran yang satu ini di otakku.

“Iya bu, saya pasti akan belajar dengan sungguh-sungguh lagi dan memperbaiki nilai saya di pelajaran biologi”

“Ohiya syah, lihat dulu ini nilaimu biologi untuk semester ini, nilaimu masih dibawa rata-rata ini, saya takut kalau kamu nggak memperbaiki ini kamu bakalan nggak bisa masuk kedokteran.”Sambil menyodorkan daftar nilai kepadaku, benar saja nilai ku masih dibawah rata-rata, bingung sekali diriku ini memikirkan cara untuk memperbaiki nilai ku ini.

“Nilai saya memang dibawah rata-rata ya bu, bagaimana ya bu caranya saya memperbaiki ini, saya takut kalau ga bisa masuk kedokteran bu, saya takut sekali bu.” Ucapku sambil panik bingung memikirkan caranya.

“Sudah kamu jangan bingung, begini saja kamu saya kasih tugas pada bab yang nilainya kurang, kamu kerjakan dengan benar terus kumpulkan, saya kasih kamu sampai hari minggu yaa.”

Bak kejatuhan durian runtuh, kata-kata Bu Nita tadi seperti pelita yang menerangi jalanku menuju kedokteran sungguh aku sangat beruntung sudah ditolong oleh Bu Nita kali ini.

“Baik bu, saya akan mengerjakan tugasnya dan mengumpulkannya tepat waktu, terima kasih bu sudah membantu saya, sudah bingung saya memikirkan caranya.” Jawabku dengan penuh semangat dan mata yang berbinar binar

loading...

“Hihihihihi iya syah iya, sama-sama, ibu juga kasian ngeliat kamu kalau sampai nggak bisa memenuhi permintaan ayahmu. Ngomong ngomong, kamu kumpulin tugas saya di kosan saya ya, kamu sudah tau kan kos saya?”

“Saya belum tau kosnya ibu, kan saya belum pernah kesana bu.”

“Oh iyaa saya lupa, nih kos saya ada di ……” Ucap beliau sambil menggambarkan peta di kertas, tetapi Bu Nita menjelaskannya bikin aku pusing, bingung aku dibikinnya dengan peta nya.

“Bingung ya syah dengan penjelasan saya tentang ini?”

“Hehehe iya bu, saya bingung. Emmmm gini aja deh bu saya minta id Line nya ibu aja, nanti ibu share loc aja kosan ibu via Line, lebih praktis kan bu.” Ucapku dengan entengnya aku meminta id Line Bu Nita berharap untuk dikasih.

“Ohh iya ya, nih id Line saya, di add aja dulu syah, nanti saya share loc ya pas udah di kos saya.” Jawab Bu Nita sambil memperlihatkan id Line di hp nya. Sungguh kejadian ini tak terduga, dapet juga aku kontak Bu Nita guru tercantik di SMA ku ini.

“Sudah saya add bu, terima kasih ya bu atas bantuannya, kalau boleh saya pulang dulu bu, takut kesorean.”

“Iya syah silahkan duluan saya bentar lagi juga pulang ini.”Aku pun menyalaminya dan langsung melenggang keluar ruang guru dan langsung pulang. Baru ingat aku kalau mobilnya dibawa kak Siska. Terpaksa deh aku harus jalan kaki dan naik angkot pulang ke rumah.

Perjalanan dari sekolah ke rumahku membutuhkan waktu 30 menit karena jalanan yang macet. Setelah 30 menit perjalanan sampailah aku di rumahku, capek juga ya ternyata jalan kaki dan naik angkot, aku pun masuk kedalam rumah, kulihat masih belum ada mobil Pajero ku pertanda kakak masih belum pulang. Akupun langsung menuju ke dapur untuk minum air dingin dari kulkas, sungguh udara Jakarta memaksaku untuk meminum ini. Tak lupa aku mengganti seragamku dan setelah kulihat aku baru ingat kalau masih ada bekas penghapus lemparan bu guru cantik tadi.

loading...

“Astagaaa, harus nyuci nih malem ini, ahh nanti aja dah habis maghrib aku nyuci nya, sekarang Mobail Lejen dulu dah hahahahaha.”

loading...
www.sedarahceritasex.com